Harga Gula Turun, Importir Pusing



JAKARTA. Peningkatan produksi gula di dua negara penghasil gula terbesar di dunia, Brazil dan India, langsung mempengaruhi harga gula putih di pasar internasional. Harga yang sudah turun di bulan Februari lalu, di bulan Maret ini, terus merosot.

Sejak awal Maret hingga memasuki pertengahan Maret, penurunan harga itu telah mencapai sekitar 19% . Pada tanggal 26 Februari lalu, harga kontrak gula putih untuk pengiriman Mei 2010 di bursa derivatif London atau London International Financial Futures & Options Exchange (LIFFE) sebesar US$ 669 per ton. Nah, kemarin (11/3), harga gula putih menyusut menjadi US$ 543 per ton.

Jika kita cermati harga rata-rata bulannya, Februari lalu, harga rata-rata gula putih sebesar US$ 669 per ton. Nah, selama bulan Maret hingga kemarin, harga rata-rata gula pulih anjlok menjadi US$ 589 per ton.


Colosewoko, Staf Ahli Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menjelaskan, ada 50 juta ton hasil panen gula Brazil tahun 2009 yang baru bisa digiling awal tahun 2010 ini. Tertundanya penggilingan itu membuat pasokan gula Brazil di tahun 2010 berlebih. “Sehingga produksi Brazil tahun 2010 ini mengalami kenaikan drastis,” kata Colosewoko, kemarin.

Sementara itu, India yang semula menghitung produksi gulanya bakal lebih kecil, kini justru memperkirakan produksinya naik 5% menjadi 16,8 juta ton hingga 30 September 2010 nanti. Nah, sesuai hukum pasar, jika pasokan melimpah, harga gula akan cenderung merosot.

“Para pembeli berharap harga gula akan terus turun seiring dengan suplai yang terus menanjak," kata Jeff Bauml, Senior Vice President R.J. O’Brien & Associates di New York, seperti dikutip Bloomberg Rabu lalu (10/3).

Harga gula di pasar internasional yang turun secara drastis tersebut semestinya bisa membuat harga gula putih di Indonesia juga turun. Namun demikian, kondisi tersebut justru merepotkan perusahaan-perusahaan yang mendapatkan izin Importir Terdaftar (IT) gula, yaitu Perum Bulog, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), PT Perkebunan Nusantara IX (PTPN IX), PTPN X, dan PTPN XI.

Alasannya, mereka mungkin akan kesulitan mendistribusikan gula yang mereka impor. “Karena gula mereka beli di harga tinggi dan baru akan datang bulan ini dan April,” kata Celosewoko.

Contohnya, PTPN XI mengusung gula impor di level harga US$ 822 per ton sebanyak 29.500 ton. Dengan harga beli itu, PTPN XI semestinya menjual gula di harga Rp 11.000 per kg. “Ketika gulanya datang, harga sudah terlanjur turun, apakah para IT itu mau merugi?” kata Natsir Mansur, Ketua Umum Asosiasi Pedagang Gula dan Terigu Indonesia (APEGTI).

Natsir memperkirakan, para IT akan merugi jika gula yang mereka impor tersebut tidak terserap sampai dengan bulan Mei. “Mereka saat ini sudah berusaha menawarkan gula itu ke pedagang, tapi kami tidak mau karena harga yang ditawarkan tinggi,” kata Natsir lagi.

Beberapa anggota APEGTI mengaku mendapat tawaran gula dari para IT dengan harga Rp 9.300 per kg. Walaupun beberapa bulan lalu harga itu terbilang wajar, di mata pedagang, untuk sekarang ini, harga tersebut terlalu tinggi. Dus, anggota APEGTI menolak tawaran tersebut.

Menurut Natsir, banyak pedagang gula juga enggan menambah pasokan gula dan hanya memelihara persediaan secukupnya saja. Sebab, menurut prediksi mereka, harga gula di dalam negeri juga akan turun. Apalagi, musim giling juga akan segera tiba.Catatan saja, saat ini, harga gula berkisar Rp 11.000 sampai Rp 12.000 per kg. Harga ini diperkirakan akan tetap bertahan hingga pertengahan Mei mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Test Test