KONTAN.CO.ID - Harga impor Amerika Serikat (AS) melonjak pada Agustus 2026, didorong kenaikan harga barang modal dan barang konsumsi. Data tersebut mengindikasikan tekanan inflasi AS berpotensi kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Melansir
Reuters, Departemen Tenaga Kerja AS pada Rabu (16/9/2026) melaporkan harga impor naik 0,7% pada Agustus, setelah turun 0,3% dalam dua bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 0,4%. Harga impor yang menjadi indikator tersebut tidak memasukkan tarif. Secara tahunan, harga impor AS melonjak 7% hingga Agustus, menjadi kenaikan terbesar sejak Agustus 2022. Angka tersebut juga meningkat dibandingkan kenaikan 6,1% pada Juli. Pemerintah AS sebelumnya melaporkan percepatan inflasi konsumen dan harga produsen pada Agustus.
Baca Juga: Uni Eropa (UE) Buka Peluang Kanada Jadi Associate Member, Apa Artinya? Harga barang modal ikut melonjak Harga barang modal impor meningkat 0,9% pada Agustus, setelah naik 1% pada Juli. Salah satu pendorongnya adalah harga mesin nonlistrik yang kembali naik 1,2%. Lonjakan harga barang modal impor turut dikaitkan dengan tingginya permintaan akibat investasi dan belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang tengah meningkat. Sementara itu, harga barang konsumsi impor di luar kendaraan bermotor kembali naik 0,5% setelah mengalami penurunan dalam dua bulan berturut-turut. Harga kendaraan bermotor, suku cadang dan mesin impor tidak mengalami perubahan pada Agustus.
Baca Juga: Huawei Prediksi 900 Miliar AI Agent Aktif di Dunia pada 2035 Tekanan inflasi inti meningkat Di sisi lain, harga bahan bakar impor turun tipis 0,1% pada Agustus dan mencatat penurunan selama tiga bulan berturut-turut. Harga makanan impor hanya naik 0,1%. Jika komponen makanan dan bahan bakar dikeluarkan, harga impor AS justru melonjak 0,8% pada Agustus, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,3% pada Juli.
Inflasi inti harga impor tersebut meningkat 5,6% secara tahunan hingga Agustus. Kombinasi tekanan harga impor, kenaikan harga konsumen dan produsen serta penguatan data ketenagakerjaan menjadi perhatian Federal Reserve (The Fed). Lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak yang berkaitan dengan perang AS-Israel dengan Iran, ditambah pertumbuhan tenaga kerja nonpertanian yang lebih tinggi dari perkiraan pada Agustus, diperkirakan turut memengaruhi keputusan The Fed mengenai suku bunga pada Rabu waktu setempat.
Baca Juga: AS Akui Tempatkan Senjata di Orbit, Persaingan Antariksa dengan China-Rusia Memanas