Harga Jagung Naik, Kondisi Panen AS Memburuk Lebih dari Perkiraan



KONTAN.CO.ID. JAKARTA. Harga jagung berjangka di Chicago kembali menguat pada Selasa (25/8/2026), bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga tahun.

Kenaikan dipicu memburuknya kondisi tanaman jagung Amerika Serikat (AS) yang turun lebih tajam dari perkiraan analis.

Kontrak jagung paling aktif di Chicago Board of Trade (CBOT) naik 0,2% menjadi US$5,1675 per bushel pada pukul 01.00 GMT. Sehari sebelumnya, harga sempat menyentuh US$5,2425 per bushel, level tertinggi sejak Juli 2023.


Pergerakan harga jagung mendapat dorongan kuat dari laporan terbaru Departemen Pertanian AS (USDA). Hingga Minggu (23/8), hanya 57% tanaman jagung AS yang berada dalam kondisi baik hingga sangat baik (good-to-excellent), turun dari 60% pada pekan sebelumnya.

Baca Juga: Harga Minyak Naik 2% Pasca AS dan Iran Memperpanjang Perundingan Hingga Pekan Depan

Penurunan tersebut lebih besar dari perkiraan analis yang memperkirakan rating hanya turun menjadi 59%. Kondisi tanaman jagung tersebut juga menjadi yang terendah untuk periode yang sama sejak 2023.

"Penurunan kondisi tanaman yang lebih besar dari perkiraan memperkuat kekhawatiran terhadap prospek produksi AS," menjadi sentimen utama yang menopang harga jagung.

Kekhawatiran pasokan sebenarnya sudah muncul sejak pekan lalu setelah tur tanaman oleh Pro Farmer menemukan kondisi panen yang terdampak cuaca musim panas yang kurang bersahabat.

Pro Farmer memperkirakan produksi jagung AS 2026 akan berada jauh di bawah proyeksi pemerintah.

Tekanan terhadap prospek pasokan juga datang dari Eropa. Layanan pemantauan tanaman MARS memangkas proyeksi hasil jagung biji-bijian tahun ini di Uni Eropa untuk bulan kedua berturut-turut.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis, Ketegangan AS-Iran Berlanjut di Tengah Lesunya Permintaan

Penurunan tersebut dipicu gelombang panas dan kekeringan.

Gandum Dekati Level Tertinggi Dua Tahun

Sementara itu, harga gandum CBOT bergerak datar di US$6,9975 per bushel. Meski demikian, harga masih bertahan dekat level tertinggi dalam dua tahun setelah sempat mencapai US$7,15 per bushel pada perdagangan sebelumnya, level tertinggi sejak Mei 2024.

Pasar gandum turut mencermati perkembangan ekspor Laut Hitam. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut akan ada jalur diplomatik dengan Rusia terkait serangan yang telah mengganggu aktivitas ekspor melalui kawasan tersebut.

Berbeda dengan jagung dan gandum, harga kedelai justru sedikit melemah. Kontrak kedelai CBOT turun 0,1% menjadi US$12,235 per bushel.

Tekanan berasal dari kabar bahwa pemerintah AS berpotensi memberikan lebih banyak pengecualian kepada perusahaan pengolah minyak dari kewajiban pencampuran bahan bakar terbarukan.

Baca Juga: Harga Minyak Naik pada Senin (22/6) Pagi, Pasca Trump Mengancam Akan Menyerang Iran

Kebijakan tersebut berpotensi mengurangi permintaan bahan bakar nabati yang menggunakan minyak kedelai sebagai salah satu bahan baku.

USDA mencatat 60% tanaman kedelai AS berada dalam kondisi baik hingga sangat baik, turun dari 61% pada pekan sebelumnya. Angka tersebut juga lebih rendah dari ekspektasi analis yang memperkirakan tidak ada perubahan.

Secara kumulatif sepanjang tahun ini, harga jagung telah naik sekitar 17%. Gandum mencatat kenaikan lebih tinggi, sekitar 38%, sedangkan kedelai menguat sekitar 17%.

Pergerakan harga komoditas pangan tersebut menunjukkan bahwa prospek produksi dan kondisi cuaca menjadi perhatian utama pasar menjelang musim panen AS.

Baca Juga: Harga Minyak Naik saat Iran & AS Mengajukan Tuntutan Terkait Pembukaan Selat Hormuz

Penurunan rating tanaman yang lebih besar dari perkiraan berpotensi menjaga harga jagung tetap mendapat dukungan dalam jangka pendek.