Harga kakao anjlok, industri cokelat untung



JAKARTA. Fluktuasi harga kakao sangat ditentukan perubahan harga kakao di pasar internasional. Saat ini harga kakao tengah tersungkur akibat kelebihan pasokan dari Afrika seperti Pantai Gading dan Ghana. Kondisi ini membuat harga kakao internasional berada anjlok sekitar 40% dalam setahun terakhir. Bahkan harga kakao internasional diprediksi tidak bisa menembus level US$ 2.000 per ton pada akhir tahun 2017. Sebagai perbandingan, pada periode sama tahun lalu, harga kakao internasional berada di kisaran US$ 2,700 - Rp 3.000 per ton. Harga kakao dalam negeri pun melonjak di kisaran Rp 35.000 per kilogram (kg) hingga Rp 40.000 per kg.

Namun akibat over suplai dari Afrika, harga kakao anjlok di kisaran Rp 20.000 - Rp 23.000 per kg di tingkat lokal dan di pasar internasional anjlok di kisaran US$ 1.700 - US$ 1.800 per ton. Arief Zamroni Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia mengatakan penurunan harga kakao sudah mulai terasa sejak Januari 2017 lalu. Namun penurunan drastis baru terasa dalam dua bulan terakhir. Saat ini, harga kakao di portal pabrik sebesar Rp 23.000 per kg dan di tingkat petani anjlok di kisaran Rp 15.000 - Rp 18.000 per kg.

"Harga maksimal bagi para petani yang sudah masuk dalam kelompok tani sebesar Rp 19.000 per kg," ujarnya kepada KONTAN, Kamis (4/5). Menurut Arief, idealnya harga kakao di tingkat petani sebesar Rp 35.000 per kg. Sebab rata-rata produktivitas perkebunan kakao di Indonesia masih 500 kg per hektare (ha) per tahun.


Sementara saat ini harga kakao sudah turun hampir 50%, harusnya agar petani tidak rugi, produktivitas kakao naik 50% atau rata-rata 1 ton per ha dalam setahun. Zulhelfi Sikumbang, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) menambahkan penurunan harga kakao ini akan menguntungkan bagi industri produsen makanan cokelat berbahan baku kakao. Sebab mereka membeli bahan baku dengan harga murah, tapi dapat menjualnya dengan harga normal. "Tapi kalau industri pengolahan kakao setengah jadi tidak untung karena harga jual mereka sangat tergantung pada fluktuasi harga internasional," imbuhnya. Askindo mendesak agar pemerintah segera turun tangan menangani persoalan kakao ini. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan produktivitas kakao sehingga pendapatan petani tidak anjlok drastis.

Caranya dengan memberikan penyuluhan dan pendampingan serta bibit unggul. Kalau tidak, maka petani kakao akan beralih ke komoditas lain seperti kelapa sawit, karet dan jagung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan