Harga katun masih bertahan tinggi



JAKARTA. Penurunan harga kapas dunia ternyata belum berpengaruh signifikan pada harga tekstil dan produk tekstil. Buktinya, harga kain katun (cotton) di pasar masih berkisar antara Rp 18.000 hingga Rp 19.000 per yard (1 yard= 0,9144 meter).

Heris, Ketua Komite Pedagang Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DKI Jakarta, mengonfirmasi bahwa harga katun, khususnya di pasar tekstil seputar Jadebotabek masih bertahan tinggi dan tidak terpengaruh penurunan harga kapas.

Menurut Heris, salah satu penyebab harga kain katun masih bertahan tinggi lantaran produsen kain masih menjual stok kain lama yang mereka produksi ketika harga kapas melambung tinggi pada Maret 2011 lalu.


Harga bertahan tinggi juga lantaran pasokan kain katun terbatas. Menurut Heris, beberapa bulan terakhir, pasokan kain katun impor tersendat. Alhasil, para pengusaha garmen kesulitan mencari bahan baku untuk baju, kaos, seprai, dan baju anak-anak.

Menurut Heris, penyebab pasokan tersendat lantaran pada Maret lalu, pemerintah menerapkan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) sebesar Rp 109.500 dan Rp 102.200 per kg untuk kain katun dari China, Hong Kong, dan Korea Selatan.

Heris berpendapat, pemerintah semestinya mencabut aturan pembatasan impor kain katun itu agar pasokan ke pasar bisa pulih. "Semestinya pemerintah melindungi produk hilir," ujarnya.

Berdasarkan data Bloomberg, harga kapas untuk pengiriman Mei 2011 di Intercontinental Exchange (ICE) London pada akhir April 2011 lalu berada di level US$ 1,95 per pound. Padahal, harga kapas sempat mencapai level tertinggi di US$ 2,14 per pound pada Maret 2011.

Saat ini, kebutuhan kapas nasional mencapai 700.000 ton-800.000 ton per tahun. Sekitar 90% bahan baku kapas masih diimpor dari Amerika Serikat, Brasil, dan Australia.

Pemilik batik Komar, Komarudi Kudiya, mengatakan, di awal bulan ini harga kain katun di Pekalongan masih Rp 22.000 per yard. "Kami harus banyak menciptakan model baru agar nilai barang tinggi," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News