Harga Kedelai AS Tertekan, China Belum Tambah Pembelian



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga kedelai berjangka Amerika Serikat (AS) tertahan setelah anjlok lebih dari 2% pada perdagangan sebelumnya.

Pasar kecewa karena pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tidak menghasilkan kesepakatan baru terkait pembelian kedelai AS maupun penghapusan tarif tambahan untuk komoditas tersebut.

Pada Selasa (29/9), kontrak kedelai paling aktif di Chicago Board of Trade (CBOT) naik tipis 0,04% menjadi US$ 12,8875 per bushel pada pukul 10.57 GMT. Sehari sebelumnya, harga kedelai merosot lebih dari 2% dan menyentuh level terendah sejak 31 Agustus.


Padahal, harga kedelai sempat mencapai level tertinggi dalam hampir tiga tahun pada awal September, didorong ekspektasi bahwa pertemuan Trump dan Xi akan menghasilkan perkembangan positif bagi perdagangan komoditas pertanian AS.

Baca Juga: Usai Melonjak 2%, Harga Kedelai AS Kini Berbalik Melemah

Namun, ekspektasi tersebut belum terealisasi. China tidak memberikan komitmen tambahan untuk membeli kedelai AS, sementara kedelai juga tidak masuk dalam daftar produk pertanian AS yang akan mendapat pemangkasan tarif.

“Tarif tambahan membuat kedelai AS sulit bersaing dengan pasokan Brasil yang lebih murah,” tulis analis Commerzbank dalam catatannya.

Dengan tarif tambahan China sebesar 10% yang masih berlaku, importir swasta China diperkirakan tetap menghadapi biaya yang lebih tinggi untuk membeli kedelai AS.

Di sisi lain, pembelian oleh perusahaan negara China memang meningkat, tetapi belum cukup untuk mengubah sentimen pasar secara keseluruhan.

Tekanan terhadap harga kedelai juga datang ketika petani AS mulai memasuki musim panen. Data mingguan Departemen Pertanian AS (USDA) menunjukkan 17% tanaman kedelai telah dipanen hingga pekan terakhir.

Laju tersebut sama dengan rata-rata lima tahun terakhir, tetapi masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 20%.

Baca Juga: Harga Kedelai dan Jagung Naik, Pasar Pantau Negosiasi AS-Iran dan Cuaca AS

Panen jagung juga baru mencapai 18%, sejalan dengan rata-rata lima tahun, namun di bawah perkiraan pasar 20%. Hujan di wilayah Midwest AS turut memperlambat aktivitas panen.

Perhatian pelaku pasar kini beralih ke laporan stok kuartalan AS yang akan dirilis USDA pada Rabu (30/9). Data tersebut akan menjadi petunjuk tambahan mengenai kondisi pasokan komoditas AS dan berpotensi memengaruhi arah harga kedelai, jagung, dan gandum.

Sementara itu, harga komoditas biji-bijian lainnya juga tertekan. Kontrak jagung CBOT turun 0,10% menjadi US$5,225 per bushel, sedangkan gandum melemah 0,73% menjadi US$6,8375 per bushel dan sempat menyentuh level terendah sejak 19 Agustus.

Harga gandum mendapat tekanan dari penguatan dolar AS, permintaan ekspor yang masih lesu, serta harapan bahwa diplomasi terkait perang Rusia-Ukraina dapat mengurangi gangguan terhadap ekspor biji-bijian dari kawasan Laut Hitam.

Baca Juga: Harga Kedelai Melemah, Pasar Menanti Hasil Pertemuan Trump dan Xi

Penawaran dalam tender impor gandum Pakistan yang muncul pada Senin juga menambah tekanan. Harga yang ditawarkan berada jauh di bawah harga yang dibayarkan Pakistan dalam tender sebelumnya pada bulan ini, mencerminkan masih lemahnya permintaan di pasar gandum global.