Harga Kedelai dan Jagung Naik, Pasar Pantau Negosiasi AS-Iran dan Cuaca AS



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Harga kedelai dan jagung di Bursa Chicago menguat pada perdagangan Rabu (24/6/2026), didorong oleh optimisme pasar terhadap perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, potensi peningkatan pembelian dari China, serta dinamika cuaca di kawasan pertanian utama Amerika Serikat.

Kontrak kedelai paling aktif di Chicago Board of Trade (CBOT) naik 0,11% menjadi US$ 11,43 per bushel.

Sementara itu, harga jagung menguat 0,06% ke level US$ 4,10 per bushel setelah mengalami penurunan selama tiga sesi perdagangan berturut-turut.


Baca Juga: China-AS Berpotensi Capai Kesepakatan Pertanian, Fokus pada Jagung dan Daging

Pelaku pasar saat ini tengah mencermati perkembangan hubungan AS-Iran yang berpengaruh terhadap pasar energi global.

Harga minyak mentah turun lebih dari 1% dan berada di dekat level terendah dalam empat bulan terakhir setelah muncul sinyal bahwa lebih banyak kapal tanker yang sebelumnya tertahan di kawasan Teluk mulai kembali melintasi Selat Hormuz.

Pergerakan harga minyak memiliki keterkaitan erat dengan pasar kedelai dan jagung karena kedua komoditas tersebut menjadi bahan baku penting dalam industri biofuel.

Penurunan harga minyak biasanya menekan harga minyak kedelai (soyoil), yang pada akhirnya dapat membatasi kenaikan harga kedelai.

Meski demikian, pendiri AgRadar Consulting yang berbasis di Beijing, Johnny Xiang, menilai pasar masih mendapat dukungan dari kekhawatiran terhadap dampak fenomena El Nino serta harapan adanya pembelian komoditas dalam jumlah besar oleh China.

Baca Juga: Minyak Naik 0,8%, Pasar Cemas Negosiasi AS-Iran dan Stok AS

Di sisi lain, kondisi cuaca di wilayah Midwest Amerika Serikat turut menjadi perhatian. Curah hujan yang cukup dan suhu yang relatif moderat sejauh ini mendukung pertumbuhan tanaman serta menekan harga jagung dan kedelai.

Namun, para pedagang mengingatkan bahwa kelembapan yang berlebihan berpotensi mengganggu perkembangan tanaman jika berlangsung terlalu lama.

Untuk jagung, sentimen positif juga datang dari kuatnya permintaan ekspor. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mengonfirmasi penjualan jagung sebanyak 100.000 ton kepada Meksiko.

Dari jumlah tersebut, 30.000 ton akan dikirim pada tahun pemasaran 2025/2026 dan 70.000 ton sisanya untuk tahun pemasaran 2026/2027.

Berbeda dengan kedelai dan jagung, harga gandum justru melemah 0,38% ke US$ 5,94-3/4 per bushel. Tekanan berasal dari kemajuan panen yang lebih cepat dari perkiraan serta melimpahnya pasokan global.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Stagnan Selasa (2/6), Pelaku Pasar Cermati Negosiasi AS-Iran

USDA melaporkan panen gandum musim dingin di Amerika Serikat telah mencapai 40% dari total area tanam. Angka tersebut melampaui estimasi analis sebesar 36% dan jauh di atas rata-rata lima tahun yang berada di level 24%.

Meski demikian, pasar gandum masih mendapat sedikit dukungan dari kekhawatiran cuaca di kawasan Laut Hitam.

Di Rusia, lembaga konsultan pertanian Sovecon memangkas proyeksi produksi gandum tahun 2026 menjadi 88,9 juta ton dari sebelumnya 90,3 juta ton setelah menurunkan estimasi luas tanam.

Baca Juga: Pasar Ragu Negosiasi AS-Iran, Harga Emas Dunia Turun di bawah US$ 4.500

Sementara itu, pelaku pasar juga mencatat bahwa dana investasi komoditas pada Selasa (23/6) tercatat melakukan aksi jual bersih terhadap kontrak berjangka jagung dan minyak kedelai di CBOT, menunjukkan investor masih berhati-hati menghadapi ketidakpastian pasar global.