KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga tahu dan tempe di pasar domestik masih tinggi meski harga kedelai dunia relatif rendah. Kondisi ini memunculkan dugaan adanya persoalan serius dalam tata niaga impor kedelai nasional, mulai dari lemahnya transmisi harga hingga potensi keuntungan besar di level importir. Lembaga riset NEXT Indonesia Center menilai lonjakan harga di dalam negeri tidak sepenuhnya dipengaruhi faktor global.
Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center, Ade Holis, mengatakan selisih harga kedelai internasional dengan harga eceran domestik terlalu lebar untuk dijelaskan hanya oleh biaya distribusi dan logistik. "Ketimpangan ini mengindikasikan adanya masalah serius dalam transmisi harga dari global ke domestik," ujar Ade Holis kepada wartawan, Minggu (10/5/2026).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Lebih dari 5% Rabu (25/3) Pagi: Brent ke US$98,28 per Barel Berdasarkan data NEXT Indonesia Center, harga kedelai impor di tingkat eceran domestik sepanjang Februari 2024 hingga Februari 2026 berada di kisaran Rp13.300-Rp15.100 per kilogram. Sementara harga acuan di pasar internasional hanya sekitar Rp6.000-Rp8.100 per kilogram. Artinya, terdapat selisih harga mencapai Rp5.600 hingga Rp8.500 per kilogram. Menurut Ade, disparitas tersebut terjadi dalam jangka panjang dan mencerminkan tata niaga kedelai nasional yang dinilai belum efisien dan minim transparansi. Kajian NEXT Indonesia Center juga memperkirakan importir menikmati marjin yang sangat besar. Pada 2025, rata-rata harga kedelai internasional disebut hanya sekitar Rp6.800 per kilogram, sedangkan harga eceran domestik mencapai Rp13.900 per kilogram. Dengan selisih Rp7.100 per kilogram dan asumsi biaya distribusi, asuransi, serta risiko sekitar 30%, importir diperkirakan masih mengantongi marjin indikatif sekitar Rp5.060 per kilogram.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Dua Hari Beruntun Rabu (6/5) Pagi, Brent ke US$108,35 Mengacu pada volume impor kedelai Indonesia tahun 2025 yang mencapai 2,56 juta ton, potensi keuntungan importir diperkirakan bisa menembus Rp12,9 triliun dalam setahun. Ade menilai kondisi tersebut dipicu struktur pasar yang tidak kompetitif. Akibatnya muncul fenomena asymmetric price transmission, yakni harga domestik tidak bergerak sejalan dengan harga global karena posisi tawar importir terlalu dominan. Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor juga dinilai sudah sangat tinggi. Lebih dari 85% kebutuhan kedelai nasional dipenuhi dari impor, dengan Amerika Serikat menjadi pemasok utama. Dalam periode 2016-2025, kontribusi impor kedelai dari AS mencapai 91,12% dari total impor nasional. Volume pasokan dari negara tersebut bahkan konsisten di atas 2 juta ton per tahun. Ketergantungan terhadap impor berbasis dolar AS juga membuat harga kedelai domestik rentan terhadap pelemahan rupiah. Kondisi ini dinilai semakin membebani perajin tahu dan tempe.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Turun, Saatnya Borong Atau Jual? Cek Angkanya! “Meski harga selangit, masyarakat terpaksa tetap membeli tahu dan tempe,” kata Ade. NEXT Indonesia Center pun mendesak pemerintah melakukan reformasi tata niaga kedelai secara menyeluruh. Lembaga tersebut menilai akses impor perlu dibuka lebih luas agar pasar tidak terkonsentrasi pada segelintir pelaku usaha. Selain itu, pengawasan harga domestik dan perbaikan rantai pasok dinilai mendesak dilakukan agar harga pangan berbahan baku kedelai lebih stabil dan terjangkau masyarakat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News