KONTAN.CO.ID - Harga kedelai kembali tertekan pada perdagangan Selasa (29/9/2026), mendekati level terendah dalam satu bulan. Tekanan terjadi setelah kedelai tidak masuk dalam daftar komoditas pertanian Amerika Serikat (AS) yang akan mendapatkan pengurangan tarif impor China. Mengutip
Reuters, kontrak kedelai paling aktif di Chicago Board of Trade (CBOT) turun 0,3% menjadi US$ 12,84¾ per bushel pada pukul 00.34 GMT. Pada perdagangan Senin, kontrak tersebut sempat menyentuh level terendah sejak 31 Agustus.
Baca Juga: Kasus Manchester City dan Negreira Barcelona, Mengapa Hukumannya Berbeda? China sebelumnya menyatakan akan memangkas tarif terhadap sejumlah produk pertanian AS, mulai dari jagung dan gandum hingga daging serta produk susu. Namun, kedelai yang merupakan komoditas impor pertanian terbesar China justru tidak masuk dalam daftar pengurangan tarif yang diterbitkan bersama oleh Kementerian Perdagangan China dan Gedung Putih. Keputusan tersebut berarti kedelai AS masih akan dikenakan tarif tambahan sebesar 10%. Para pelaku pasar menilai tarif tersebut terlalu tinggi untuk ditanggung importir swasta China, meskipun perusahaan pembeli milik negara China mulai meningkatkan pembelian kedelai dari AS. Tekanan juga terjadi pada komoditas biji-bijian lainnya. Harga gandum turun 0,4% menjadi US$ 6,86¼ per bushel, mendekati level terendah dalam enam pekan yang tercatat pada sesi sebelumnya. Sementara itu, harga jagung turun 0,3% menjadi US$ 5,21¼ per bushel. Pasar gandum masih mencermati upaya diplomatik untuk mengurangi gangguan terhadap ekspor biji-bijian melalui Laut Hitam. Upaya tersebut berlangsung di tengah serangan yang masih terjadi dalam perang Rusia-Ukraina.
Baca Juga: Yield Obligasi Jepang Dekati Level Tertinggi 30 Tahun, Lelang JGB Jadi Sorotan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Jumat lalu mengatakan India, Turki, Mesir dan sejumlah negara Timur Tengah lainnya terlibat dalam pembicaraan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Laut Hitam. Turki juga telah menyampaikan sejumlah proposal kepada Moskow terkait keamanan pelayaran. Jika upaya diplomatik tersebut menghasilkan gencatan senjata dan penghentian serangan timbal balik, Rusia berpotensi dengan cepat mengaktifkan kembali hingga 80% kapasitas terminal biji-bijian di kawasan Laut Hitam, berdasarkan analisis Reuters terhadap data industri.
Di AS, perkembangan panen juga menjadi perhatian pasar. Departemen Pertanian AS (USDA) melaporkan petani telah memanen 18% tanaman jagung dan 17% kedelai. Laju tersebut masih sejalan dengan rata-rata lima tahun terakhir. Sementara itu, layanan pemantauan tanaman MARS pada Senin memangkas proyeksi hasil panen jagung dan bit gula di Uni Eropa. MARS menyebut hujan kembali turun terlambat sehingga tidak cukup untuk memulihkan kerusakan tanaman akibat gelombang panas dan kekeringan selama musim panas.
Baca Juga: Pertemuan Trump-Xi Minim Hasil, Hubungan AS-China Masih Dibayangi Kebuntuan