KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax terus menuai sorotan. Di tengah tren kenaikan harga komoditas energi global, harga pasar atau harga keekonomian RON 92 tersebut ditaksir telah melonjak jauh di atas harga jual yang ditetapkan saat ini. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ikatan Ahli Teknik Minyak Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo mengungkapkan, perhitungan formulasi harga keekonomian Pertamax dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah. Melalui beberapa indikator makro tersebut, nilai riil dari bahan bakar nonsubsidi produksi PT Pertamina (Persero) ini sejatinya telah menembus level belasan ribu rupiah.
"Dengan beberapa asumsi sebagai berikut, harga minyak diambil rata-rata US$ 100/barell, rendemen atau yield 0,6, kurs Rp 17.800/US$. Akan di peroleh angka keekonomian Rp 18.700. Jika ditambah dengan biaya distribusi (
distributions cost) Rp 500 per liter. Maka Total Harga Keekonomian (Pertamax) adalah Rp 19.200," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (15/6/2026).
Baca Juga: Pertamina Hulu Energi (PHE) Raup Laba US$2,17 Miliar pada 2025 Dengan naiknya harga Pertamax dari semula Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, posisi harga jual saat ini dinilai masih berada di bawah nilai wajar pasar. Selisih harga yang cukup lebar ini kemudian memicu konsekuensi, di mana beban selisih nilai tersebut masih harus ditanggung oleh badan usaha milik negara maupun kas negara. "Harga Pertamax Rp 12.300, aslinya, kemudian di naikkan menjadi Rp 16.250. Pemerintah atau Pertamina masih menangggung Rp 19.200 dikurang Rp 16.250 sama dengan Rp 2.950 per liter. Pertamina butuh
cash flow dan berat sekali kalau harus nalangin terus, karena belum ada arahan jelas pemerintah, apakah akan bisa di
reimburse ke pemerintah?" ungkapnya. Guna mengantisipasi beban finansial yang terus membengkak akibat ketergantungan pada komoditas fosil, Hadi mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis yang konkret. Menurutnya, pemerintah perlu mempercepat program diversifikasi energi ke sektor domestik sebagai solusi jangka panjang demi mengurangi tekanan likuiditas di masa mendatang. "Percepat konversi BBM te gas dan BBM ke listrik," jelasnya.
Baca Juga: ASDP Siapkan Armada dan Diskon Tiket Jelang Musim Libur Sekolah Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Dwi Anggia mengatakan, jika berkaca dari negara tetangga sejatinya harga jual BBM jenis RON 92 cukup tinggi dibandingkan harga di dalam negeri.
"Berbicara harga keekonomian untuk BBM non-subsidi khususnya RON 92, kalau kita melihat negara tetangga itu di angka Rp 20.000-Rp 21.000 (per liter)," ujar saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (11/6/2026). Dengan demikian, Dwi mengungkapkan, harga Pertamax yang dibanderol saat ini setelah dilakukan penyesuaian, pada dasarnya masih jauh di bawah dari harga jual di negara tetangga. "Jadi kenaikan atau penyesuaian yang dilakukan sekarang ini sebenarnya masih jauh di bawah harga keekonomian. Namun ini adalah pilihan terbaik, jalan tengah, agar dua-duanya bisa survive. Ketersediaan energi jangka panjang ada, masyarakat juga tidak disulitkan, daya beli masyarakat tetap terjaga," tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News