Harga Kemasan Berpotensi Naik Seiring Pelemahan Rupiah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kemasan terancam makin tertekan akibat pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akhir-akhir ini.

Sebagaimana diketahui, kurs rupiah telah mencapai level Rp 16.412 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (14/6) lalu, berdasarkan situs Bloomberg. Angka ini mulai menyerupai posisi rupiah ketika krisis moneter tahun 1998 silam. Kala itu, rupiah pernah terjerembab di level Rp 16.800 per dolar AS.

Indonesia Packaging Federation (IPF) menyebut, pelemahan rupiah sangat terasa dampaknya bagi industri kemasan. Sebab, porsi impor bahan baku kemasan mencapai 50%, sehingga biaya produksi otomatis meningkat.


Baca Juga: Pelemahan Rupiah Mulai Memukul Industri Manufaktur

"Alhasil, harga kemasan plastik terkerek sekitar 3% sampai 5% atau bahkan lebih," kata Business Development Director IPF Ariana Susanti, Selasa (18/6).

Hal ini tentu menimbulkan efek domino ke industri pengguna kemasan seperti makanan-minuman (mamin). Kenaikan harga kemasan pun dapat menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan produsen mamin dalam menyesuaikan harga jual produk ke konsumen akhir.

"Strategi produsen kemasan hanyalah membatasi impor bahan baku sesuai dengan order yang diterima saja, sehingga risiko kerugian akibat pelemahan kurs bisa dikurangi," ungkap Ariana.

Dalam berita sebelumnya, IPF menargetkan pertumbuhan volume penjualan kemasan di Indonesia sekitar 3%-4% pada 2024.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi