Harga Komoditas Energi Kompak Menguat dalam Sebulan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga sejumlah komoditas energi kompak menguat dalam sebulan terakhir. Kenaikan terjadi pada minyak mentah, gas alam dan batubara di tengah meningkatnya risiko geopolitik, kekhawatiran pasokan serta kebutuhan pengamanan energi.

Berdasarkan laporan Bloomberg Kamis (3/9/2026), kilang di China dan India meningkatkan pembelian minyak mentah dari Timur Tengah. Kedua negara tersebut meningkatkan pembelian di pasar spot dan bersaing dengan pembeli dari Korea Selatan dan Jepang untuk mendapatkan pasokan dari kawasan Teluk.

Peningkatan pembelian terjadi di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat meningkatnya tensi Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut turut membuat pelaku pasar mencermati risiko gangguan lalu lintas tanker di Selat Hormuz.


Baca Juga: Cipta Selera Murni (CSMI) Kaji Ekspansi Merek Baru, Sahamnya Melonjak dan Disuspensi

Pergerakan harga komoditas energi pun ikut menguat. Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (4/9/2026) pukul 17.50 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 90,45 per barel, naik 20,23% dalam sebulan. Sementara Brent berada di US$ 94,96 per barel, menguat 19,49%.

Harga gas alam juga naik 8,79% dalam sebulan menjadi US$ 2,92 per MMBtu. Sedangkan batubara menguat 12,34% menjadi US$ 147 per ton.

Analis Mata Uang sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan, kondisi pasar energi saat ini membuat pelaku pasar meningkatkan perhatian terhadap ketersediaan pasokan, terutama menjelang periode konsumsi yang lebih tinggi.

“Penguatan serempak pada kompleks komoditas energi mencerminkan kombinasi antara eskalasi friksi geopolitik di titik sumbat logistik vital serta dimulainya siklus penumpukan stok (stockpiling) menjelang musim dingin,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (4/9/2026).

Menurut Wahyu, pengaruh faktor tersebut berbeda pada setiap komoditas. Pada minyak mentah, risiko gangguan pasokan menjadi perhatian utama. Sementara gas alam dan batubara mendapat tambahan dorongan dari kebutuhan musiman serta pengamanan pasokan energi.

Untuk gas alam, Wahyu mengatakan kondisi pasokan dan permintaan global mulai memberikan ruang bagi harga untuk bergerak lebih tinggi. Produksi gas serpih Amerika Serikat mulai melambat, sementara arus pasokan ke terminal ekspor LNG AS kembali meningkat.

Baca Juga: IHSG Menguat 1,82% Sepekan Ini, Cermati Pemicu dan Rekomendasi Saham Pekan Depan

Di sisi permintaan, utilitas di belahan bumi utara mulai meningkatkan pengisian fasilitas penyimpanan bawah tanah untuk menghadapi musim dingin.

Kondisi tersebut membuat harga gas alam berpotensi mengalami pergerakan yang lebih besar. “Kenaikan drastis bisa mungkin terjadi mendadak dalam suatu waktu nantinya, seperti kebiasaannya,” ujar Wahyu.

Sementara itu, kenaikan harga minyak dan gas turut mengubah keekonomian penggunaan sumber energi. Batubara kembali memiliki daya saing sebagai bahan bakar pembangkit listrik, khususnya di sejumlah negara Asia.

Selain faktor harga relatif terhadap energi lain, Wahyu mengatakan importir utama Asia juga mulai mengamankan pasokan batubara untuk menghadapi kebutuhan energi akhir tahun.

Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, karakteristik gas alam memang membuat komoditas tersebut memiliki volatilitas yang tinggi.

“Terlepas dari isu geopolitik Iran, natural gas secara musiman bisa bergerak liar,” kata Lukman.

Menurut Lukman, pergerakan gas alam dapat berlangsung sangat tajam dalam waktu singkat sebelum kembali menuju kondisi normal dan memasuki fase konsolidasi.

“LNG kadang memang bisa bergerak sangat dramatis, harganya bisa naik atau turun yang sangat besar pada suatu waktu sebelum akhirnya kembali normal dan konsolidasi,” ujar Lukman.

Ia menambahkan, tingginya volatilitas membuat pasar gas alam menarik bagi pelaku spekulasi karena perubahan harga yang besar dapat menciptakan peluang di pasar berjangka.

Untuk batubara, Lukman mengatakan permintaan dari China dan India masih menjadi salah satu penopang harga. Namun, kondisi pasokan yang relatif mencukupi dan tekanan dari transisi energi membuat ruang penguatan batubara tidak sebesar minyak mentah.

Prospek Akhir 2026

Memasuki akhir 2026, Wahyu memperkirakan harga WTI berada di kisaran US$ 86-US$ 98 per barel, sedangkan Brent berada di rentang US$ 91-US$ 104 per barel.

Untuk gas alam, Wahyu memproyeksikan harga berada di kisaran US$ 3,20-US$ 4,50 per MMBtu. Sementara batubara Newcastle diperkirakan bergerak pada rentang US$ 140-US$ 165 per ton.

Sementara itu, Lukman memperkirakan Brent berada di kisaran US$ 90-US$ 105 per barel dan WTI US$ 85-US$ 100 per barel hingga akhir tahun. Adapun gas alam diproyeksikan berada di rentang US$ 2,80-US$ 3,80 per MMBtu, sedangkan batubara Newcastle sekitar US$ 125-US$ 150 per ton.

Meski demikian, pergerakan komoditas energi masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik, kondisi pasokan dan permintaan global, serta faktor cuaca. De-eskalasi konflik AS-Iran dan normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz dapat meredakan tekanan harga minyak, sementara musim dingin yang lebih hangat dari perkiraan dapat membatasi permintaan gas alam dan batubara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News