KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga sejumlah komoditas energi seperti minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), Brent, gas alam, hingga batubara kompak mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Melansir Trading Economics pada Kamis (30/7) pukul 17.45 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 9% dalam sepekan ke kisaran US$ 83,5 per barel, Brent melemah 9,9% tujuh hari terakhir ke level US$ 89,7 per barel. Sementara harga gas alam bertengger di harga US$ 2,7 per MMBtu atau terkoreksi sekitar 6,4% dalam sepekan, begitu halnya batubara juga terkoreksi tipis 0,5% dalam seminggu terakhir jadi US$ 130,2 per ton.
Baca Juga: ORI030 Terjual Rp 40 Triliun, Bagaimana Prospek SBN Ritel hingga Akhir Tahun? Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan pelemahan komoditas energi saat ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global, akibat tingginya suku bunga di berbagai negara serta ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional. Sehingga, kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa konsumsi energi, khususnya minyak dan batubara, akan tumbuh lebih lambat dibandingkan proyeksi sebelumnya. “Menurut saya, koreksi ini masih berpotensi berlanjut dalam jangka menengah apabila tidak muncul katalis baru yang mampu meningkatkan permintaan secara signifikan,” ungkap geraldo saat dihubungi Kontan, Kamis (30/7/2026). Dari sisi domestik, Geraldo menilai pelemahan harga komoditas energi membawa dampak yang beragam terhadap Indonesia. Di satu sisi, penurunan harga minyak mentah dapat membantu mengendalikan inflasi, mengurangi tekanan biaya impor energi, serta mendukung stabilitas fiskal dan nilai tukar rupiah. Namun di sisi lain, perusahaan yang bergerak di sektor batubara, minyak, dan gas berpotensi menghadapi tekanan terhadap pendapatan apabila harga komoditas bertahan rendah dalam waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut dapat memengaruhi margin keuntungan, belanja modal, hingga potensi penerimaan negara dari sektor energi. Guna menghadapi kondisi ini, Geraldo menekankan, investor bisa tetap mengedepankan pendekatan yang selektif dalam berinvestasi pada aset maupun saham berbasis komoditas energi. "Selama tren harga masih berada dalam fase bearish dan belum terdapat konfirmasi pembalikan tren yang kuat, strategi terbaik adalah menunggu sinyal teknikal maupun fundamental yang lebih jelas sebelum meningkatkan eksposur secara agresif," katanya. Adapun hingga akhir 2026, Geraldo memproyeksikan harga minyak WTI bergerak di kisaran US$ 60 hingga US$ 68 per barel, sedangkan Brent berada pada rentang US$ 63-US$ 71 per barel.
Sementara itu, harga gas alam Henry Hub diperkirakan bergerak pada kisaran US$ 2,8-US$ 3,8 per MMBtu dengan volatilitas yang tetap tinggi mengikuti kondisi cuaca serta permintaan LNG global. Di sisi lain, harga batubara Newcastle diproyeksikan berada di kisaran US$ 95 sampai US$ 115 per ton seiring normalisasi permintaan dari Tiongkok serta meningkatnya transisi menuju sumber energi yang lebih bersih.
Baca Juga: Bitcoin Tertekan Sentimen Global, Diversifikasi Bisa Jadi Kunci Investasi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News