KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mencatatkan momentum penjualan yang solid pada kuartal II – 2026. Ke depan, harga komoditas diproyeksi menjadi salah satu penentu kinerja ANTM. Devi Harjoto, Equity Analyst OCBC Sekuritas mencatat momentum penjualan ANTM yang lebih kuat di beberapa komoditas pada kuartal II – 2026. Volume penjualan emas meningkat 15,4% secara
quarter on quarter (qoq) atau kuartalan menjadi 309.200 ons, meningkatkan penjualan bulanan rata-rata menjadi 3,2 ton dari 2,8 ton pada kuartal I – 2026, meskipun volume semester I – 2026 tetap 38,3% lebih rendah secara
year on year (yoy) karena gangguan pasokan.
Baca Juga: Rupiah Rp 17.500 Masih Realistis, Tapi Target Yield SBN 6,9% Dinilai Lebih Berat Volume penjualan Feronikel (FeNi) melonjak 71,3% qoq, yang menurutnya mencerminkan pengiriman ekspor yang lebih kuat dan pengurangan persediaan meskipun terjadi penurunan produksi sebesar 4,1% qoq. Volume penjualan bijih nikel secara umum stabil di 3,4 juta wet metrik ton (WMT). Sementara penjualan bauksit naik 11,9% qoq menjadi 664.000 ton, didukung oleh peningkatan produksi sebesar 3,5% qoq menjadi 0,63 juta WMT. Sehingga pertumbuhan penjualan bauksit semester I – 2026 mencapai 22,6% yoy. “ANTM diperkirakan akan membukukan EBITDA kuartal II – 2026 sebesar Rp 5 triliun, sehingga EBITDA semester I – 2026 mencapai Rp 9,8 triliun,” ujar Devi dalam risetnya pada 12 Agustus 2026. Devi memperkirakan pendapatan ANTM meningkat 7,5% qoq menjadi Rp 31,5 triliun pada kuartal kedua tahun 2026, sehingga pendapatan semester pertama tahun 2026 mencapai Rp 60,8 triliun (naik 3,1% yoy). Devi memandang pendapatan tersebut terutama didukung oleh pendapatan bijih nikel yang lebih kuat menyusul harga jual rata – rata (ASP) yang lebih tinggi berdasarkan formula harga patokan mineral (HPM) baru. Namun, dari segi profitabilitas, Devi memperkirakan Gross Profit Margin (GPM) akan melambat menjadi sekitar 17% dari 19,2% pada kuartal I – 2026, mencerminkan harga jual rata – rata (ASP) emas yang lebih lemah secaa kuartalan (qoq) dan biaya pengadaan yang lebih tinggi karena pasokan emas dari Freeport belum sepenuhnya normal. Berdasarkan segmen, Devi memperkirakan pendapatan emas akan sedikit tumbuh sekitar 2% qoq menjadi Rp 24,4 triliun. Sementara pendapatan bijih nikel diperkirakan akan mencapai Rp 4,7 triliun pada kuartal II – 2026 (naik 23,4% qoq), sebagian besar ditopang oleh harga jual yang lebih tinggi di tengah volume penjualan yang relatif stabil. “Selanjutnya, pendapatan penjualan FeNi diproyeksikan hampir berlipat ganda berkat harga jual rata – rata (ASP) dan volume penjualan yang kuat secara qoq pada kuartal II – 2026,” terang Devi. Analis Indo Premier Sekuritas, Ryan Winipta memperkirakan harga jual rata – rata (ASP) bijih nikel ANTM akan semakin menurun mulai kuartal III – 2026. Pemeriksaan saluran yang dilakukan Indo Premier Sekuritas menunjukkan bahwa bijih nikel sekarang hampir tidak diperdagangkan dengan premium terhadap harga patokan mineral (HPM). Hal tersebut karena situasi cuaca membaik sementara kenaikan biaya bahan bakar membatasi kemampuan pabrik peleburan untuk menyerap harga bijih yang lebih tinggi. Ini bersamaan dengan penurunan harga LME baru-baru ini dari US$ 19.000 per ton pada puncaknya menjadi US$ 17.000 per ton saat ini. “Meskipun pencapaian perdagangan emas pada semester I – 2026 sesuai dengan perkiraan, kami melihat potensi risiko penurunan pada angka kami karena permintaan domestik untuk emas relatif lemah pada Juli 2026 karena tren penurunan harga emas baru-baru ini,” ujar Ryan saat dikonfirmasi Kontan, Jumat (14/8/2026).
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.798 Per Dolar AS Hari Ini (17/8), Asia Perkasa Meskipun demikian, Ryan melihat potensi kenaikan harga emas pada semester II – 2026, yang pada akhirnya akan meningkatkan permintaan emas domestik. Ryan memperkirakan margin perdagangan ANTM kemungkinan tidak akan setinggi kuartal I – 2026 dan harga jual rata-rata bijih nikel yang lebih rendah pada semester II – 2026 dan seterusnya karena kemampuan pabrik peleburan yang memburuk untuk menyerap harga bijih yang lebih tinggi. “Kami juga memperkirakan Weda Bay Nickel (WBN) ANTM akan mencatat kerugian sekitar Rp 120 miliar (disesuaikan dengan kepemilikan saham 10%) pada kuartal II – 2026 karena WBN (berdasarkan 100%) mencatat penyelesaian tunai sekitar Rp 700 miliar terkait izin kehutanan,” ucap Ryan. Sementara itu, Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas, Dennis Tay menyoroti masuknya ANTM secara strategis ke dalam rantai pasokan baterai
electric vehicle (EV) yang merupakan taruhan dengan opsi tertinggi yang tertanam dalam harga saham ANTM. Dennis mengatakan bahwa Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, dan ANTM berada di ujung hulu basis sumber daya tersebut dengan posisi cadangan yang substansial dan bijih dengan kualitas lebih tinggi dibandingkan pasar yang lebih luas. Keunggulan kualitas tersebut bukanlah kebetulan, karena pemrosesan nikel kelas baterai membutuhkan spesifikasi bijih tertentu yang secara struktural mampu dipenuhi oleh ANTM. Konstruksi
Engineering, Procurement, Construction (EPC) dengan konsorsium
CATL, Brunp, dan Lygend (CBL) dimulai pada kuartal IV – 2025, menargetkan produksi sekitar 88.000 ton
Nickel Pig Iron (NPI) dan sekitar 55.000 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) menurut pembaruan terbaru perusahaan. Sementara perjanjian kerangka kerja yang lebih luas dengan HYD Investment Limited yang ditandatangani pada Januari 2026 semakin memperluas cakupan integrasi dari sumber daya hingga produksi baterai. Kemitraan ini menandakan niat ANTM untuk menangkap nilai di berbagai titik di sepanjang rantai nilai baterai, alih-alih tetap menjadi pemasok bahan baku untuk pengolah pihak ketiga. Mandat hilir nasional Indonesia lebih lanjut memastikan sumber daya nikel domestik diproses di dalam negeri daripada diekspor sebagai bijih mentah. “Kami memperkirakan pasar saat ini memberikan nilai minimal pada opsi ekosistem baterai ANTM. Seiring dengan tercapainya tonggak konstruksi dan kerangka kerja pembelian yang semakin jelas, kami memperkirakan opsi ini akan secara bertahap dievaluasi kembali ke dalam harga saham,” jelas Dennis dalam risetnya pada 29 Juli 2026. Devi memproyeksikan pendapatan dan laba bersih ANTM pada tahun 2026 masing – masing mencapai Rp 118,23 triliun dan Rp 10,59 triliun. Adapun pada tahun 2025, ANTM mengantongi pendapatan Rp 84,64 triliun dan laba bersih sebesar Rp 7,21 triliun.
Adapun risiko investasi yang perlu diperhatikan antara lain penurunan produksi, perubahan kebijakan pemerintah, dan penundaan pelaksanaan proyek. Devi, Dennis, dan Ryan merekomendasikan
buy saham ANTM dengan target harga masing – masing Rp 4.650 per saham, Rp 4.220 per saham, dan Rp 3.700 per saham.
Baca Juga: Saham Emiten Bahan Baku Tumbuh Signifikan Dalam Sebulan Terakhir, Simak Prospeknya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News