Harga Komoditas Tinggi, Hexindo Adiperkasa (HEXA) Keruk Peluang Segmen Pertambangan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) optimistis prospek bisnis di tahun fiskal 2022 alias periode April 2022 - Maret 2023 berpotensi lebih baik dibanding periode sama tahun sebelumnya.  

Dengan optimisme tersebut, emiten yang bergerak di bidang perdagangan alat-alat berat dan pelayanan purna jual dengan merek utama Hitachi itu menetapkan angka proyeksi penjualan sebesar US$ 531,9 juta untuk tahun fiskal 2022 alias periode April 2022 - Maret 2023 ini.

Direktur HEXA Dwi Sasono mengatakan, HEXA akan mengevaluasi angka proyeksi tersebut saban bulan.


“Apabila market trennya terus positif, tentunya kami akan evaluasi mengarah ke naik, apabila sebaliknya tentu kami juga harus realistis,” ujar Dwi dalam acara public expose yang digelar Rabu (21/9).

Angka proyeksi penjualan HEXA  di tahun fiskal 2022 lebih besar 14,8% dibanding realisasi penjualan tahun fiskal 2021. Pada  April 2021 - Maret 2022 lalu,  penghasilan neto alias net revenue HEXA hanya mencapai US$ 463,26 juta.

HEXA optimistis, tingginya harga komoditas tambang, khususnya batubara, bisa mendorong permintaan alat berat. Untuk itu, HEXA telah menyiapkan sejumlah strategi untuk “mengeruk” berkah di segmen pasar pertambangan.

Baca Juga: Hexindo Adiperkasa (HEXA) Sebut Bisnis Alat Berat pada Semester II-2022 Masih Moncer

Dwi berujar, HEXA berstrategi untuk konsisten mengadakan pertemuan dengan para pelanggan di sektor tambang guna membahas kebutuhan alat mereka. Selain itu, HEXA juga berstrategi menyiapkan kontrak-kontrak spesial untuk pelanggan di sektor tambang. Dwi tidak merinci kontrak spesial seperti apa yang ia maksud.

“Kemudian kami secara konsisten juga memberikan konsultasi teknikal terhadap customer-customer yang bergerak di sektor tambang,” imbuh Dwi.

Pada kuartal pertama tahun fiskal 2022, HEXA telah membukukan penghasilan neto sebesar US$ 114,10 juta, melesat 54,51% dibanding penghasilan neto HEXA di kuartal pertama tahun fiskal 2021 yang berjumlah US$ 73,84 juta.

Mayoritas penghasilan neto tersebut berasal dari penjualan alat berat  yang  mencapai US$ 73,60 juta atau setara 64,40% dari total penghasilan neto HEXA di kuartal pertama alias April-Juni 2022 ini, sedang sisanya berasal dari lini usaha penjualan suku cadang, jasa pemeliharaan dan perbaikan, serta jasa penyewaan alat berat.

Penjualan alat berat di kuartal pertama tahun fiskal 2022 didominasi oleh penjualan  Excavator yang jumlahnya 538 unit (termasuk rental 8 unit), kemudian diikuti oleh penjualan 139 unit Mini Excavator, dan 9 unit Wheel Loader. 

Sebagian besar penjualan Excavator tersebut menyasar sektor Agro dengan porsi kontribusi 36%, disusul oleh sektor tambang 22%, konstruksi 22%, forestry 18%, dan lain-lain 3%.

 
HEXA Chart by TradingView

“Pencapaian kuartal I, yaitu April-Juni tahun fiskal 2022 sangat menggembirakan karena jauh lebih bagus dibandingkan tahun lalu, hal ini karena sampai hari ini proyeksi dan kenyataan komoditas yang ada di Indonesia ini masih bagus, terutama di sektor batubara,” tutur Dwi.

Selain memacu kinerja, HEXA juga menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) 16,4 juta untuk menunjang bisnis rental perusahaan. Sumber pendanaannya berasal dari pendanaan internal dan eksternal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari