KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT ASUS Indonesia optimistis pasar laptop masih mencatatkan pertumbuhan hingga akhir 2026, meski kenaikan harga komponen mendorong harga jual produk. Untuk menjaga penjualan, perusahaan mengandalkan inovasi produk, penguatan nilai tambah, serta peningkatan layanan kepada konsumen.
Head of Public Relations & Digital Marketing ASUS Indonesia Brama Setyadi mengatakan, perusahaan masih melihat peluang pertumbuhan di pasar laptop domestik. Namun, kenaikan harga komponen membuat laju penjualan tidak setinggi yang diharapkan.
“Kalau dari ASUS, kami masih optimistis mencapai target sampai akhir 2026. Cuma, karena ada komponen yang naik, penjualannya menjadi lebih stagnan. Ada pertumbuhan, tetapi tidak banyak,” ujar Brama kepada Kontan disela peluncuran Asus ProArt P14 dan P16 di XXI Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga: Dua Tahun Prabowo-Gibran, Petani Sawit Minta Dukungan EUDR hingga Evaluasi B50 Brama menyebut, ASUS secara internal mematok pertumbuhan penjualan sekitar 10%-20% setiap tahun. Meski demikian, perusahaan beberapa kali merevisi target tersebut untuk menyesuaikan kondisi ekonomi dan perkembangan pasar. Menurut dia, pertumbuhan penjualan hingga memasuki kuartal IV-2026 sudah mulai terlihat. Namun, kenaikannya masih terbatas akibat tekanan harga komponen dan perbedaan daya beli konsumen di setiap segmen pasar. ASUS mencatat, kenaikan harga jual laptop bervariasi menurut segmen produk. Untuk sejumlah produk kelas atas, kenaikannya bisa mencapai lebih dari 10% atau mendekati 15%. Sementara itu, kenaikan harga pada segmen bawah relatif lebih terbatas. Brama menjelaskan, tekanan harga terutama berasal dari kenaikan harga memori dan penyimpanan berbasis
solid-state drive (SSD). Kedua komponen tersebut mengalami kenaikan seiring meningkatnya kebutuhan industri kecerdasan buatan atau
artificial intelligence (AI). Di sisi lain, sebagian besar komponen yang digunakan ASUS masih berasal dari impor. Kondisi tersebut membuat harga produk turut dipengaruhi perkembangan harga komponen global dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). “Kenaikan itu sudah terlihat sejak akhir 2025, kemudian berlanjut pada awal 2026. Naiknya bertahap, ditambah pengaruh dolar AS. Jadi, Indonesia menghadapi dua tekanan sekaligus,” kata Brama. Menurut dia, meningkatnya kebutuhan komponen untuk infrastruktur AI juga memengaruhi ketersediaan pasokan bagi pasar laptop ritel. Permintaan dari penyedia infrastruktur AI yang menyerap lebih banyak komponen membuat produsen perangkat konsumen ikut menghadapi tekanan biaya. Meski demikian, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghambat permintaan. Brama menilai daya beli konsumen masih relatif terjaga di segmen atas. Hal itu terlihat dari penjualan sejumlah produk premium ASUS yang tetap mendapat respons positif meski dibanderol dengan harga tinggi. Sementara itu, konsumen di segmen bawah cenderung lebih berhati-hati dalam berbelanja. Karena itu, menurut Brama, faktor nilai produk terhadap harga atau
value for money menjadi pertimbangan penting untuk menjaga penjualan. Untuk menghadapi persaingan di tengah kenaikan harga, ASUS berupaya memperkuat nilai tambah produk dan layanan. Strategi tersebut mencakup pengembangan fitur sesuai kebutuhan konsumen, perluasan jaringan pusat layanan, serta penambahan perlindungan garansi. “Sekarang kompetitor juga mengalami kenaikan harga, begitu juga kami. Jadi, tinggal bagaimana kami menawarkan value, misalnya dengan memperbanyak service center, memperpanjang garansi, dan menambah layanan garansi,” ujar dia. Salah satu upaya ASUS memperkuat portofolio produk premium terlihat melalui peluncuran laptop kreator profesional ProArt P14 (H7407BA) dan ProArt P16 (H7607BA) di Indonesia.
Baca Juga: MyClinic Malaysia Investasi Rp 4,38 Miliar untuk Ekspansi ke Indonesia Kedua perangkat tersebut menyasar kebutuhan kreator profesional, mulai dari penyuntingan foto dan video hingga pemrosesan AI secara lokal. ASUS mengandalkan kombinasi layar berakurasi warna tinggi, performa komputasi, serta desain yang mendukung mobilitas pengguna.
Country Manager ASUS Indonesia Lenny Lin mengatakan, kedua laptop tersebut dirancang untuk pengguna yang membutuhkan perangkat ringan dengan kemampuan komputasi tinggi. Keduanya membawa layar sentuh ASUS Lumina Pro OLED, dukungan pemrosesan AI, serta bobot di bawah 1,77 kilogram. ProArt P14 memiliki layar 14 inci beresolusi 3K dan bobot sekitar 1,4 kilogram. Adapun ProArt P16 mengusung layar 16 inci beresolusi 4K dengan bobot sekitar 1,7 kilogram. Kedua model menawarkan refresh rate hingga 120Hz dan dirancang untuk menunjang pekerjaan kreatif.
ASUS ProArt P14 dibanderol Rp 80,999 juta, sedangkan ProArt P16 dipasarkan dengan harga Rp 113,999 juta. ASUS membuka periode pre-order kedua laptop tersebut hingga 23 Oktober 2026. Peluncuran produk premium ini menjadi bagian dari upaya ASUS memenuhi kebutuhan konsumen dengan karakteristik yang berbeda, sekaligus memperkuat penawaran produk di tengah perubahan struktur biaya industri laptop.
Baca Juga: Penjualan Formosa Ingredient (BOBA) Naik 20,48% Jadi Rp 160,04 M per Kuartal III-2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News