TAMPA, Florida. Sejumlah analis industri komoditas mulai membandingkan pergerakan pasar kopi dengan kakao, setelah harga kakao mengalami kejatuhan signifikan pasca mencapai rekor tertinggi pada 2024. Para pelaku pasar kini menyoroti kemungkinan bahwa harga kopi juga akan mengalami koreksi dalam beberapa bulan ke depan Perdebatan mengenai prospek harga kopi ini menjadi salah satu fokus pembahasan dalam konvensi tahunan National Coffee Association (NCA) yang digelar pekan lalu di Tampa, Florida.
Perbandingan Pasar Kopi dan Kakao
Harga kakao di New York sempat menyentuh rekor lebih dari US$12.000 per ton pada Desember 2024, dipicu gangguan pasokan akibat cuaca buruk di negara-negara produsen utama.Harga Arabika Pernah Tembus Rekor
Kopi jenis arabika juga mengalami lonjakan harga akibat gangguan produksi di wilayah tropis. Harga sempat mencapai rekor pada Februari 2025 dan tetap tinggi, dipengaruhi distorsi perdagangan global, termasuk dampak kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat. Namun, ekspektasi pemulihan produksi di Brasil, sebagai produsen kopi terbesar dunia, mulai menekan harga pada tahun ini. Brasil diperkirakan akan mencatatkan panen yang kuat, yang berpotensi meningkatkan pasokan global Garner memperkirakan harga kopi dapat turun hingga US$2 per pon pada akhir tahun ini, seiring melemahnya permintaan akibat harga yang tinggi. Analis kopi dari Avere Commodities, Digby Beatson-Hird, bahkan memproyeksikan harga dapat turun lebih jauh hingga US$1,80 per pon. Sebagai perbandingan, kontrak kopi New York ditutup mendekati US$2,93 per pon pada perdagangan terbaru.Konsumen Mulai Mengurangi Pengeluaran
Survei NCA terhadap 1.500 responden di Amerika Serikat pada Januari menunjukkan 61% konsumen mengambil langkah penghematan, termasuk:- Mengurangi kunjungan ke kedai kopi
- Lebih sering menyeduh kopi di rumah
- Beralih ke merek yang lebih murah