Harga Kripto Berpeluang Pulih, Pasar Waspadai Dampak Peretasan Binance



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aset kripto berpeluang mengalami pemulihan pada awal pekan ini setelah terkoreksi akibat insiden peretasan yang menimpa Binance. Meski demikian, pelaku pasar masih perlu mencermati potensi tekanan jual dari aset hasil peretasan yang nilainya mencapai miliaran dollar AS.

Sebelumnya, Binance mengungkapkan insiden keamanan yang berdampak pada aset senilai sekitar US$ 6,3 miliar. Peretasan tersebut turut memicu kekhawatiran di pasar aset digital dan menekan harga sejumlah mata uang kripto utama.

Co-founder CryptoWatch sekaligus pengelola kanal Duit Pintar, Christopher Tahir, mengatakan sebagian pelaku pasar memperkirakan harga aset kripto akan mulai pulih. Ekspektasi tersebut muncul seiring aksi pembelian kembali ketika harga mengalami pelemahan pada pekan lalu.


Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah Rp 18.156 Per Dolar AS Hari Ini (2/11), Asia Terkoreksi

"Banyak pelaku pasar yang memperkirakan akan adanya pemulihan pada harga crypto pada umumnya, dikarenakan adanya aksi pembelian kembali pada saat harga melemah pada pekan lalu," ujar Christopher kepada Kontan, Senin (2/11/2026).

Meski demikian, menurut Christopher, dampak insiden pembobolan Binance tidak sepenuhnya bisa dianggap sebagai sentimen jangka pendek. Potensi penjualan aset hasil peretasan masih dapat menjadi tekanan bagi pasar dalam jangka menengah.

"Untuk saat ini, dampaknya terlihat akan cenderung berjangka pendek, tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa dampaknya akan hingga jangka menengah dikarenakan potensi penjualan hasil peretasan yang cukup signifikan itu," jelasnya.

Christopher memperkirakan lebih dari US$ 1 miliar dana terkait peretasan tersebut telah dibekukan oleh penerbit stablecoin USDT dan USDC. Namun, proses pelacakan dan pengembalian aset menjadi lebih rumit karena dana tersebut disebut telah digunakan sebagai jaminan di protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi) Aave untuk menarik aset Ether (ETH).

"Hingga saat ini diperkirakan ada lebih dari 1.000.000.000 USD yang sudah dibekukan oleh USDT dan USDC, tetapi dana tersebut digunakan sebagai jaminan oleh peretas di DeFi Aave, yang digunakan untuk menarik dalam bentuk ether," kata Christopher.

Baca Juga: Keuangan Kuartal III 2026 : Kinerja Menguat, Telkom Raup Pendapatan Rp113,5 Triliun

Menurut dia, mekanisme penarikan melalui flash loan turut mempersulit proses pelacakan dan pengembalian dana hasil peretasan. Pasalnya, aset yang telah ditarik melalui mekanisme tersebut tidak dapat dibekukan.

Kondisi ini membuka risiko tekanan jual terhadap Ether. Christopher menyebut potensi penjualan mencapai 420.000 ETH, yang dapat menjadi perhatian pelaku pasar dalam jangka pendek hingga menengah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News