Harga LNG Spot Asia Tembus Level Tertinggi 3 Tahun Imbas Krisis AS–Iran



KONTAN.CO.ID - Harga liquefied natural gas (LNG) spot di Asia melonjak tajam dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada Jumat (6/3/2026), setelah penghentian produksi di Qatar memicu perebutan pasokan gas di pasar global.

Sumber industri memperkirakan harga LNG untuk pengiriman April ke Asia Timur Laut berada di kisaran US$22,50 per juta British thermal units (mmBtu).

Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di US$10,40 per mmBtu, sekaligus menjadi level tertinggi sejak pertengahan Januari 2023.


Lonjakan harga ini dipicu oleh terganggunya pasokan LNG dari Qatar, yang menyumbang sekitar 20% pasokan LNG global, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta pembatasan arus energi di Selat Hormuz.

Baca Juga: Data Pekerjaan AS Melemah, Peluang The Fed Pangkas Suku Bunga Juni Meningkat

Managing Partner Davenport Energy Toby Copson mengatakan, pasar LNG mengalami penyesuaian harga yang sangat cepat setelah gangguan pasokan dari Qatar dan pembatasan arus energi di Selat Hormuz.

Menurutnya, pasar gas di Asia Timur kecuali China saat ini semakin ketat, sementara negara-negara Asia Tenggara berpotensi tersingkir dari pasar karena harga yang terlalu tinggi.

“Ketersediaan pasokan tambahan sangat terbatas. Kemungkinan kita akan melihat kargo LNG dari Amerika Serikat dialihkan ke Asia karena kini terdapat premi harga dibandingkan pasar Eropa,” ujarnya.

Sebagai informasi, lebih dari 80% ekspor LNG Qatar selama ini dikirim ke Asia. Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi mengatakan pemulihan pengiriman LNG bisa memakan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan, dan memperkirakan harga gas berpotensi melonjak hingga US$40 per mmBtu.

Baca Juga: Donald Trump Tuntut Iran Menyerah Tanpa Syarat di Tengah Eskalasi Perang

Analis LNG dari Energy Aspects Tom Purdie memperkirakan, gangguan di Selat Hormuz kemungkinan berlangsung setidaknya hingga pertengahan Maret. Namun dampaknya terhadap pasokan global bisa bertahan lebih lama.

Menurutnya, pasokan LNG Qatar kemungkinan akan terganggu setidaknya selama empat minggu, sehingga dampak terbesar akan dirasakan di Asia yang sangat bergantung pada kontrak jangka panjang dari Qatar dan Uni Emirat Arab.

Secara keseluruhan, kedua negara tersebut memiliki kontrak jangka panjang sekitar 71 juta ton per tahun dengan pembeli di Asia yang menjadi tulang punggung pasokan energi kawasan.

Baca Juga: Konflik Iran Hambat Penerbangan Timur Tengah, Evakuasi Warga Terjebak Ketidakpastian

Sejumlah negara berkembang di Asia Selatan seperti India, Pakistan, dan Bangladesh diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak. Negara-negara tersebut dikenal sensitif terhadap harga dan sangat bergantung pada LNG Qatar.

Beberapa pembeli di India bahkan dilaporkan belum memberikan kontrak impor baru dan memilih mengurangi produksi industri untuk menghemat konsumsi gas.

Sementara itu di Eropa, harga gas juga naik lebih dari 60% sepanjang pekan ini, meskipun mulai melambat pada perdagangan Jumat.

Harga LNG di Eropa kini berada di kisaran US$17,57 per mmBtu, lebih rendah dibandingkan harga di Asia, sehingga kawasan tersebut berpotensi kalah bersaing dalam memperebutkan kargo LNG dari Amerika Serikat.

Di sisi lain, tarif pengiriman LNG global juga melonjak tajam. Data Spark Commodities menunjukkan tarif pengiriman LNG di Atlantik naik menjadi sekitar US$264.250 per hari, level tertinggi sejak Desember 2022, sementara tarif di Pasifik mencapai US$219.250 per hari.