KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga mayoritas logam industri masih berada dalam tren pelemahan pada awal pekan ini. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), ekspektasi suku bunga tinggi
Federal Reserve (The Fed), hingga sentimen spesifik dari masing-masing komoditas masih menjadi faktor yang menekan pergerakan harga. Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (29/6) pukul 16.10 WIB, harga aluminium turun 1,06% secara harian dan terkoreksi 5,77% dalam sepekan menjadi US$ 3.165 per ton. Harga nikel juga melemah 0,90% dalam sehari dan turun 5,80% secara mingguan menjadi US$ 16.653 per ton. Sementara itu, timah masih mampu menguat tipis 0,34% secara harian. Namun, secara mingguan harga logam tersebut tetap terkoreksi 5,14%. Timah saat ini dibanderol seharga US$ 50.553 per ton.
Baca Juga: IHSG Ambruk 1,28% ke 5.820, Top Losers LQ45: ESSA, PGAS dan BRPT, Senin (29/6) Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pelemahan harga logam dasar dalam sepekan terakhir dipicu oleh penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga acuan AS akan bertahan di level tinggi lebih lama. Selain itu, menurut Lukman, masing-masing logam juga menghadapi sentimen fundamental yang berbeda. "Nikel tertekan kabar rencana Indonesia meningkatkan kuota produksi tambang menjadi sekitar 360 juta ton dari 260 juta ton. Sementara itu, aluminium tertekan oleh meredanya geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan prospek kembalinya ekspor logam dari kawasan Teluk," ujar Lukman kepada Kontan, Senin (29/6). Adapun, harga timah turut tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran bahwa belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan permintaan semikonduktor tidak akan tumbuh sekuat yang sebelumnya diperkirakan. Lukman menilai nikel berpotensi menghadapi tekanan paling besar dibandingkan logam industri lainnya. Pasalnya, peningkatan produksi Indonesia berisiko memperlebar surplus pasokan di pasar global. Sebaliknya, aluminium dinilai memiliki prospek yang relatif lebih baik karena masih ditopang permintaan dari sektor energi dan kendaraan listrik. Sementara itu, prospek timah masih akan sangat bergantung pada pemulihan industri elektronik dan perkembangan belanja AI. Secara keseluruhan, harga logam industri diperkirakan masih bergerak volatil pada semester II-2026. Arah pergerakannya akan dipengaruhi oleh nilai tukar dolar AS, kebijakan suku bunga The Fed, serta prospek permintaan dari China sebagai konsumen logam terbesar dunia. Jika dolar AS mulai melemah dan aktivitas manufaktur global kembali membaik, harga logam industri berpeluang pulih secara bertahap. Sebaliknya, apabila suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, ruang kenaikan harga diperkirakan akan tetap terbatas. Lukman memperkirakan pada semester II-2026 harga aluminium akan bergerak di kisaran US$ 2.900–US$ 3.100 per ton, nikel di rentang US$ 15.000 – US$ 17.000 per ton, serta timah pada level US$ 45.000–US$ 48.000 per ton. Menurut Lukman, pergerakan harga logam industri juga akan memengaruhi kinerja ekspor, pendapatan emiten tambang, hingga penerimaan negara dari sektor pertambangan.
Pelemahan harga nikel diperkirakan memberi tekanan paling besar mengingat Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia dan pasar global masih menghadapi kondisi kelebihan pasokan. Untuk itu, investor perlu mencermati sejumlah sentimen utama, seperti arah kebijakan suku bunga The Fed, data ekonomi China khususnya sektor manufaktur dan properti, kebijakan produksi nikel Indonesia, perkembangan geopolitik, serta prospek belanja AI dan permintaan semikonduktor yang akan menjadi penentu pergerakan harga logam industri hingga akhir tahun.
Baca Juga: Rupiah Menguat 0,40% Senin (29/6), Jisdor BI Ikut Menghijau ke Rp 17.856 per Dolar AS Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News