Harga logam industri menguat tersokong produksi yang belum pulih



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga komoditas logam industri kompak menguat karena pasokan yang terbatas. Namun, para analis memproyeksikan pertumbuhan harga logam industri di tahun depan tidak lebih tinggi dari tahun ini. 

Mengutip Bloomberg, Jumat (3/12), harga timah memimpin penguatan tertinggi diantara logam industri. Komoditas tersebut naik 93% secara year to date (ytd) ke US$ 39.335 per metrik ton. Sementara, harga aluminium naik 32% ytd ke US$ 2.623 per metrik ton. 

Sementara, tembaga dan nikel masing-masing naik 21% ytd ke US$ 9.418 per metrik ton dan 20% ytd ke US$ 20.030 per metrik ton. 


Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan harga logam industri kompak naik karena jumlah pasokan lebih sedikit dari permintaan. Produksi belum pulih seperti sebelum pandemi Covid-19 menyerang. 

Baca Juga: Harga emas spot stagnan di level US$ 1.783,92 per ons troi pada tengah hari ini

Bahkan untuk aluminium, Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono memproyeksikan defisit pasokan akan berlanjut ke 2022.  Sementara, faktor cuaca ekstrem serta bencana banjir juga turut mengganggu produksi logam industri. 

Sedangkan, permintaan meningkat pesat seiring ekonomi mulai bangkit. Wahyu mengatakan permintaan logam industri naik pasca pandemi mereda di China. "Pemulihan ekonomi meningkatkan permintaan untuk kebutuhan manufaktur yang kembali berjalan," kata Wahyu. 

Namun, Ibrahim memproyeksikan harga komoditas dalam jangka pendek berpotensi terkoreksi. Sentimen negatif datang dari potensi The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya. Meski begitu, Ibrahim memproyeksikan koreksi harga hanya akan terjadi untuk sementara waktu. 

Sementara, di kuartal I-2022, Ibrahim memproyeksikan harga logam industri masih dapat bertahan di level tingginya. Sentimen varian baru omicon yang menjadi pemicu harga komoditas masih tinggi. 

Baca Juga: Aneka Tambang (ANTM) bukukan laba Rp 1,7 triliun, ini komentar DPR

Namun, memasuki kuartal selanjutnya, Ibrahim memproyeksikan pergerakan harga komoditas akan cenderung stagnan atau stabil. Sentimen yang mempengaruhi adalah proyeksi pemulihan ekonomi yang mulai kembali berjalan. Alhasil, negara produksi komoditas logam industri juga akan kembali menggenjot produksi. 

Wahyu memproyeksikan harga timah masih bisa naik tetapi kenaikannya tidak lebih tinggi dari 2021. Rentang harga timah di 2022 US$ 25.000-US$45.000. Begitu pun, kenaikan harga aluminium di tahun depan tidak sekuat tahun ini. Namun, target rekor all time high di US$ 3.200 masih berpotensi tercapai. Rentang harga aluminium di 2022 US$ 2.000-US$ 3.500. 

Sementara, harga nikel terpantau stabil konsolidasi. Wahyu memproyeksikan pergerakan tersebut akan berlanjut di tahun depan. "Harga nikel sulit naik tetapi juga tidak anjlok, konsolidasi saja," kata Wahyu. Rentang harga nikel pada 2022 berada di kisaran US$ 16.000-US$23.000. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi