Harga Logam Industri Variatif, Prospek Aluminium dan Timah Masih Bullish



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga sejumlah logam industri bergerak variatif pada akhir pekan lalu. Meski sebagian terkoreksi secara harian, prospek jangka pendek hingga menengah masih ditopang oleh faktor pasokan global yang ketat dan sentimen geopolitik.

Berdasarkan data Trading Economics pada penutupan Jumat (24/4/2026), harga aluminium turun 0,46% secara harian menjadi US$ 3.603 per ton. Harga timah juga melemah 0,41% ke level US$ 50.215 per ton. Sementara itu, nikel justru menguat 1,86% menjadi US$ 19.125 per ton.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pergerakan ketiga logam tersebut masih menunjukkan tren yang relatif kuat dalam jangka pendek hingga menengah.


Baca Juga: Dolar AS Tertekan di Akhir Pekan, Waspadai Berbalik Arah Terdorong Kenaikan Inflasi

“Nikel masih didukung pasokan yang ketat dari Indonesia, timah juga oleh gangguan pasokan dari Myanmar dan Indonesia. Sementara aluminium dipengaruhi oleh disrupsi di Timur Tengah,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (24/4/2026).

Menurut dia, timah menjadi logam dengan prospek paling bullish karena didukung oleh pasokan global yang ketat, gangguan produksi, serta kondisi stok yang rendah. Faktor-faktor tersebut membuat kenaikan harga timah lebih ditopang oleh fundamental.

Di sisi lain, aluminium diperkirakan bergerak bullish secara moderat. Kenaikan harga aluminium lebih dipengaruhi oleh risk premium energi dan ketegangan geopolitik, termasuk isu di Selat Hormuz, meskipun permintaan global belum sepenuhnya pulih.

Adapun nikel dinilai masih menjadi logam dengan prospek paling lemah di antara ketiganya. 

Hal ini disebabkan oleh kondisi oversupply di pasar global yang masih membatasi potensi kenaikan harga, meskipun terdapat dukungan dari kebijakan pembatasan produksi di Indonesia.

Secara keseluruhan, ketiga logam tersebut masih memiliki kecenderungan bullish. Lukman memperkirakan pada kuartal II-2026 harga aluminium bergerak di kisaran US$ 3.400 – US$ 3.800 per ton, timah di US$ 46.000 – US$ 53.000 per ton, dan nikel di US$ 17.000 – US$ 20.000 per ton.

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Lanjut Melemah, Ini Proyeksi Senin (27/4)

Ia menambahkan, harga logam yang masih relatif tinggi berpotensi menjadi sentimen positif bagi kinerja emiten tambang ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News