KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga logam mulia mengalami koreksi sepanjang pekan ini. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi peluang bagi investor untuk kembali mengakumulasi emas, perak, dan platinum secara bertahap. Alih-alih membeli sekaligus, investor disarankan membagi modal dan mencermati level support untuk menentukan titik masuk yang lebih optimal. Berdasarkan data Trading Economics, harga emas ditutup pada US$ 4.350,36 per ons troi pada Jumat (11/9/2026). Harga emas turun 1,85% secara mingguan.
| Komoditas | Harga penutupan 11 September 2026 | Area akumulasi |
|---|---|---|
| Emas | US$ 4.350,36 | US$ 4.300-US$ 4.220 |
| Perak | US$ 64,266 | US$ 62-US$ 59 |
| Platinum | US$ 1.797,60 | Belum disebutkan |
| Paladium | US$ 1.324 | Belum disebutkan |
Tonton: Target Ekonomi 8% Makin Berat, Indonesia Harus Punya Resep Baru Emas Tetap Jadi Pilihan Utama Di tengah koreksi harga logam mulia, Wahyu menilai emas masih layak menjadi porsi terbesar dalam portofolio investor. Ia menyarankan investor menerapkan diversifikasi antara aset inti dan taktis. Dengan demikian, investor tetap memiliki eksposur terhadap emas sekaligus dapat memanfaatkan peluang dari komoditas logam mulia lainnya. “Diversifikasi bobot inti dan taktis. Alokasikan 70%-80% porsi logam mulia pada emas fisik atau kontrak emas, sementara 20%-30% dapat dialokasikan pada perak atau platinum,” jelasnya. Menurut Wahyu, perak dapat menjadi pilihan bagi investor yang memiliki profil risiko lebih agresif. Pasalnya, pergerakan harga perak cenderung lebih volatil dibandingkan emas. Adapun platinum dapat menjadi alternatif bagi investor yang ingin menangkap peluang pemulihan harga di luar emas. Baca Juga: Sejumlah Emiten Mulai Ekspansi di Luar Bisnis Inti, Cek Prospeknya Waspadai Risiko Leverage Meski koreksi harga dapat dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi, investor tetap perlu memperhatikan risiko perdagangan logam mulia. Wahyu mengingatkan investor agar tidak berlebihan menggunakan *leverage*, terutama dalam perdagangan derivatif.
Rp3,6 Triliun untuk Gaji Manajer KDMP, Beban Negara Benarkah Kecil?
© 2026 Konten oleh Kontan