KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak ditutup turun di akhir pekan ini karena para pedagang memperoleh keyakinan bahwa konflik baru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin kecil kemungkinannya. Jumat (5/6/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 ditutup melemah 2,04% ke US$ 93,09 per barel. Pada sesi sebelumnya, Brent ditutup ambles 2,84%. Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli 2026 ditutup anjlok 2,69% menjadi US$ 90,54 per barel, menyusul penurunan 3,1% pada hari Kamis (4/6/2026).
“Pasar tidak melihat adanya eskalasi antara kedua belah pihak,” kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group. "Meskipun kita tidak mencapai kesepakatan, tampaknya pasar sedang mengalami penurunan eskalasi."
Baca Juga: Konflik Teluk Memanas: AS Kembali Serang Iran Saat Negosiasi Damai Pengembangan Perminyakan Oman mengatakan operasi di pelabuhan Mina al Fahal tidak terpengaruh setelah tiga sumber mengatakan kepada Reuters bahwa pemuatan minyak telah ditangguhkan menyusul ledakan di dekat tempat berlabuhnya. Oman mengekspor 800.000 hingga 900.000 barel minyak mentah per hari dari terminal tersebut. Walau melemah di akhir pekan, namun harga minyak mentah menguat dalam sepekan terakhir ini. Di mana, harga Brent naik 2,16% dan WTI melonjak 3,64% di pekan ini. Ini juga kenaikan mingguan pertama minyak dalam tiga pekan terakhir. Kontrak tersebut meningkat pada awal pekan ini setelah pertempuran berkobar di Timur Tengah seiring dengan berlarutnya perundingan perdamaian AS-Iran, sementara lalu lintas di Selat Hormuz, tempat seperlima minyak dunia lewat, masih terbatas. “Ketika harapan untuk mencapai kesepakatan antara AS dan Iran kembali pupus, harga minyak mentah Brent dan gas alam Eropa sedikit naik minggu ini,” kata analis Commerzbank pada hari Jumat. Namun, kenaikan Brent telah dibatasi oleh persediaan minyak yang bertahan lebih lama dari perkiraan, pengalihan ekspor dan penurunan permintaan, tambah Commerzbank. Pemimpin Hizbullah Naim Qassem pada hari Kamis menolak perjanjian yang ditengahi AS antara Israel dan pemerintah Lebanon untuk menghentikan pertempuran. Iran telah menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat bagi setiap perjanjian perdamaian dengan Washington. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Kamis ia yakin kemajuan telah dicapai antara Israel dan Lebanon dan bahwa Lebanon pantas mendapatkan perdamaian.
Baca Juga: Timnas Iran Dapat Visa AS untuk Piala Dunia, Sejumlah Pejabat Federasi Masih Tertahan "Optimisme apa pun masih tertutupi oleh jaringan berita utama dan berita utama yang saling bertentangan," kata analis pasar IG Tony Sycamore dalam sebuah catatan. OPEC tetap berpegang pada perkiraan pertumbuhan permintaan minyak sebesar 1,2 juta barel per hari untuk tahun ini, Sekretaris Jenderal Haitham Al Ghais mengatakan pada hari Kamis, meskipun terjadi konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz. Ekspor minyak Iran telah jatuh ke level terendah dalam enam tahun terutama karena blokade angkatan laut AS, menurut data pengiriman, meskipun lemahnya permintaan di China telah menekan harga minyak.