Harga Minyak Anjlok 1% di Pagi Ini (24/8): AS Bakal Umumkan Sanksi Tambahan ke Iran



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak turun 1% pada hari ini karena investor melakukan aksi ambil untung menjelang pengumuman yang diperkirakan akan disampaikan oleh Amerika Serikat (AS) terkait penerapan sanksi tambahan terhadap Iran.

Senin (24/8/2026) pukul 06.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 turun 94 sen atau 1% menjadi US$ 93,45 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 melemah 92 sen atar 1,06% ke level US$ 86,14 per barel.


Koreksi minyak terjadi setelah investor melakukan aksi profit taking jelang konferensi pers yang akan dilakukan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada pukul 14.00 EDT (18.00 GMT) hari ini.

Baca Juga: ​Trump Ungkap 1.051 Transaksi Investasi Juni 2026, Jual Meta dan Beli Saham Visa

Kabarnya, konferensi pers tersebut dilakukan untuk mengumumkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bilang, ancaman sanksi baru AS sebagai tanda keputusasaan dan langkah-langkah baru yang diharapkan akan gagal mengalahkan Iran.

Ekonomi Iran sudah berada di bawah tekanan besar akibat sanksi internasional, infrastrukturnya telah berulang kali dihantam, dan ribuan orang tewas dalam serangan udara terhadap Republik Islam sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari.

Namun Teheran tetap menantang setelah hampir enam bulan perang dan telah menghentikan pengiriman barang di Selat Hormuz, menolak mengizinkan kapal tanker minyak ilegal untuk melintasi jalur air yang vital bagi pengiriman minyak global. Blokade efektif di selat tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak global.

Dalam sebuah video yang diunggah di Telegram, Araqchi menggambarkan apa yang disebutnya sebagai "skenario berulang": "Fakta bahwa mereka (para pemimpin AS) telah beralih dari operasi militer ... untuk mengangkat rencana lama yang sama menunjukkan bahwa mereka putus asa."

Ia mengatakan Washington harus berbicara kepada Iran dengan hormat untuk menemukan "solusi berdasarkan keadilan dan kehormatan."