KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak melemah jelang akhir pekan karena kemungkinan pembicaraan lebih lanjut antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel meningkatkan harapan investor bahwa perang di Timur Tengah mungkin akan segera berakhir. Jumat (17/4/2026) pukul 17.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juni 2026 turun US$ 3,09 atau 3,11% menjadi US$ 96,30 per barel. Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei 2026 melemah US$ 4,01 atau 4,23% ke US$ 90,68 per barel.
"Harga minyak bereaksi sangat sensitif terhadap berita utama tentang eskalasi atau de-eskalasi," kata analis UBS, Giovanni Staunovo, setelah Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa kesepakatan Iran "sudah sangat dekat" pada hari Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Saham Netflix Anjlok: Rencana Kepergian Reed Hastings Guncang Valuasi Pasar Pada level tersebut, harga Brent diperkirakan akan naik 1,2% untuk minggu ini, dan harga WTI turun 6% di pekan ini. Menanggapi poin penting dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang Iran, Trump mengatakan Teheran telah menawarkan untuk tidak memiliki senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun. "Kita akan lihat apa yang terjadi. Tapi saya pikir kita sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran," kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih pada hari Kamis. Harga minyak telah turun di bawah US$ 100 per barel tetapi tetap tinggi minggu ini di atas US$ 90, setelah kenaikan 50% pada bulan Maret. Sifat sementara gencatan senjata Israel-Lebanon, tujuan Israel untuk secara signifikan melemahkan rezim Iran, dan prospek yang tidak mungkin untuk pembukaan kembali Selat Hormuz segera—semuanya memberikan batas bawah pada harga, kata analis PVM, Tamas Varga. Kampanye Israel di Lebanon telah menjadi hambatan utama untuk mengamankan kesepakatan perdamaian yang dicari Trump untuk mengakhiri perang yang dilancarkannya dengan Israel pada akhir Februari.
Baca Juga: Trump Sebut Kesepakatan Damai dengan Iran Sudah Dekat Para negosiator AS dan Iran telah mengurangi harapan mereka akan kesepakatan perdamaian komprehensif dan malah mencari memorandum sementara untuk mencegah kembalinya konflik, demikian menurut dua sumber Iran kepada Reuters pada hari Kamis. Juga pada hari Jumat, Prancis dan Inggris akan memimpin pertemuan sekitar 40 negara yang bertujuan untuk memberi sinyal kepada AS bahwa sekutunya siap memainkan peran dalam memulihkan arus melalui Selat Hormuz setelah kondisi memungkinkan. "Setelah keadaan tenang, kerja keras dimulai untuk memasukkan dan mengeluarkan kapal, dan menempatkannya di lokasi yang tepat. Tidak diragukan lagi normalisasi masih berbulan-bulan lagi dan ketatnya pasokan saat ini akan terus menopang pasar produk olahan," kata analis Saxo Bank, Ole Hansen. Para analis dari ING memperkirakan bahwa sekitar 13 juta barel minyak per hari telah terganggu akibat penutupan Selat tersebut.