Harga Minyak Anjlok 5%, Harapan Kesepakatan AS-Iran Redakan Ketegangan Hormuz



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia berbalik melemah tajam pada perdagangan Selasa (4/8/2026) setelah muncul harapan tercapainya kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Prospek pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai dapat memperlancar pasokan minyak global sehingga meredakan kekhawatiran pasar.

Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman terdekat anjlok US$ 3,95 atau 4,72% menjadi US$ 79,82 per barel pada pukul 13.40 GMT, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian US$ 86,33 per barel.


Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 4,32 atau 5,38% ke posisi US$ 76,02 per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh US$ 82,33 per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Alami Kenaikan Usai AS-Iran Saling Gertak

Kedua acuan minyak tersebut juga sempat jatuh ke level terendah sejak 13 Juli 2026.

Pelemahan ini terjadi setelah Qatar dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent memberikan sinyal positif mengenai peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran.

Jika tercapai, kesepakatan tersebut diperkirakan akan membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.

"Harapan kesepakatan AS-Iran memicu aksi jual di pasar minyak," kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Sebelumnya pada awal perdagangan, harga minyak sempat melonjak lebih dari 2% karena ketidakpastian mengenai negosiasi antara AS dan Iran.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari mengatakan upaya penyelesaian konflik secara diplomatik masih terus berlangsung. Qatar, Pakistan, dan Oman disebut aktif memediasi kedua pihak dengan memfasilitasi pertukaran proposal kesepakatan.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 5%, Diplomasi AS-Iran Jadi Kunci?

Senada, Scott Bessent menyatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz berpeluang tercapai secepatnya, bahkan dalam satu hingga dua hari. Ia juga mengungkapkan telah melihat semakin banyak kapal mulai keluar dari Selat Hormuz.

Meski demikian, Staunovo menilai pasar minyak masih berada dalam kondisi pasokan yang ketat. Produksi minyak Timur Tengah memang mulai pulih dibandingkan saat konflik memuncak, tetapi volumenya masih berada di bawah tingkat sebelum konflik pecah.

Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama dalam perundingan AS-Iran. Sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu, sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur pelayaran strategis tersebut setiap hari.

Di sisi lain, ketegangan di kawasan belum sepenuhnya mereda. Seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran menginginkan kendali terhadap kapal yang memasuki Selat Hormuz serta visibilitas terhadap lalu lintas kapal yang keluar, termasuk hak untuk melakukan intervensi bila diperlukan, sebagai bagian dari rencana pembukaan kembali jalur tersebut yang tengah dibahas bersama Oman.

Analis ANZ menilai gangguan ekspor minyak dari kawasan Teluk masih berlangsung karena serangan terhadap kapal-kapal niaga masih membatasi arus distribusi.

Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb pada awal pekan hanya mengalami sedikit perubahan dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Lebih dari 6% Pasca Iran dan AS Sepakat Hentikan Pertempuran

Risiko keamanan juga tetap tinggi. Badan UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal sekitar 20 mil laut di timur laut Al Khasab, Oman.

Sementara itu, di Laut Merah, enam kapal tanker super berbendera Arab Saudi mengubah rute melalui Afrika bagian selatan, sedangkan dua kapal tanker bermuatan minyak Saudi tetap melintasi Selat Bab el-Mandeb.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent masih akan bergerak di kisaran US$ 80 hingga US$ 90 per barel hingga terdapat kepastian mengenai kesepakatan baru antara AS dan Iran atau terjadi eskalasi konflik yang lebih besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News