KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia jatuh sekitar 5% ke level terendah dalam tiga pekan pada perdagangan Senin (3/8/2026). Pelemahan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan baru terhadap Iran dan memilih membuka peluang negosiasi, sehingga memicu ekspektasi pasokan minyak dari kawasan Teluk berpotensi kembali meningkat. Mengutip
Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 4,41 atau 5% menjadi US$ 83,52 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot US$ 5,18 atau 6,1% ke US$ 79,49 per barel.
Posisi tersebut menjadi level penutupan terendah Brent sejak 13 Juli lalu. Trump mengatakan keputusan membatalkan serangan diambil karena pemerintahannya ingin mengedepankan jalur diplomasi dengan Iran. "Saya lebih memilih membuat kesepakatan. Saya tidak ingin membunuh orang," kata Donald Trump.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 2%, Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Kian Menguat Trump juga mengklaim pembicaraan dengan Iran akan dimulai pada Senin sore waktu setempat. Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah Teheran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan tidak ada perundingan yang sedang berlangsung maupun agenda pertemuan dengan Amerika Serikat. Iran juga memastikan tidak berencana menerima delegasi asing ataupun mengirim tim negosiator ke luar negeri dalam waktu dekat. Selain meredanya kekhawatiran konflik, pasar juga mencermati keputusan kelompok produsen minyak OPEC+ yang menyetujui kenaikan kuota produksi sekitar 188.000 barel per hari mulai September. Meski demikian, peningkatan pasokan tersebut diperkirakan belum sepenuhnya mengalir ke pasar karena gangguan ekspor yang masih terjadi akibat konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Senin (25/5) Pagi, Dipicu Kabar Kesepakatan AS-Iran Makin Dekat Di sisi lain, ketegangan di jalur pelayaran energi global masih berlanjut. Data pelacakan kapal menunjukkan sedikitnya enam kapal tanker berbendera Arab Saudi mengubah rute pelayaran melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam akan menyerang kapal-kapal Saudi. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga dilaporkan melambat menyusul adanya laporan serangan terhadap sejumlah kapal. Jalur tersebut merupakan salah satu titik terpenting perdagangan energi dunia yang selama ini dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global. Di Irak, perusahaan pemasaran minyak negara SOMO menawarkan diskon besar untuk pengiriman minyak Basrah pada Agustus guna menarik pembeli yang bersedia mengangkut kargo dari wilayah di sekitar Selat Hormuz.
Sementara itu, Rusia juga mulai memperkuat pengamanan pelayaran di kawasan Laut Azov dan Laut Hitam serta menyiapkan jalur logistik alternatif setelah meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal di wilayah tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Lebih dari 7,5%, Brent Kembali ke Bawah US$ 90 Per Barel Langkah ini diambil untuk menjaga kelancaran ekspor energi di tengah eskalasi perang dengan Ukraina. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News