Harga Minyak Anjlok 5% Usai AS–Iran Melunak, Sentimen Fundamental Kembali Menekan



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia terkoreksi tajam pada awal pekan ini, turun sekitar 5% seiring meredanya ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pelemahan ini menegaskan kembali bahwa secara fundamental pasar minyak masih dibayangi risiko kelebihan pasokan dan permintaan yang melambat.

Pada perdagangan Senin (2/2/2026), minyak mentah Brent turun US$3,50 atau 5% ke level US$ 65,86 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 3,42 atau 5,2% menjadi US$ 61,79 per barel.

Penurunan ini terjadi setelah harga minyak sempat melonjak tajam sepanjang Januari. 


Brent mencatat kenaikan 16% dan WTI naik 13%, menjadi penguatan bulanan terbesar sejak 2022, dipicu kekhawatiran eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Namun, sentimen tersebut berbalik cepat setelah sinyal de-eskalasi muncul.

Dari sisi fundamental, pasar kembali menyoroti suplai yang relatif longgar. OPEC+ dalam pertemuan akhir pekan sepakat mempertahankan tingkat produksi untuk Maret. 

Sebelumnya, kelompok produsen ini juga membekukan rencana kenaikan produksi hingga Maret 2026 karena konsumsi musiman yang lebih lemah.

Selain itu, gangguan pasokan di Amerika Serikat dan Kazakhstan mulai mereda, menambah tekanan pada harga. 

“Tidak adanya eskalasi lanjutan di Timur Tengah dan berkurangnya gangguan pasokan membebani harga minyak,” ujar analis UBS Giovanni Staunovo.

Faktor makro juga memperparah tekanan. Penguatan dolar AS, dipicu sentimen pasar terhadap kebijakan moneter dan penunjukan pimpinan baru bank sentral AS, membuat minyak—yang diperdagangkan dalam dolar—menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar AS. 

“Kekuatan dolar kembali menekan harga minyak,” kata analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.

Tekanan ini juga terjadi di tengah aksi jual luas di pasar komoditas, termasuk emas dan perak, yang memperkuat sentimen negatif terhadap aset berisiko.

Sejumlah analis menilai reli Januari lebih banyak ditopang premi risiko geopolitik ketimbang perbaikan fundamental. 

“Risiko geopolitik menutupi kondisi pasar minyak yang secara fundamental cenderung bearish,” tulis Capital Economics dalam catatannya.

Di bagian akhir, faktor non-bisnis turut berperan. Pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Iran “serius berbicara” dengan Washington, serta sinyal kesiapan negosiasi dari Teheran, meredakan kekhawatiran konflik terbuka. 

Meredanya ketegangan ini menghapus premi risiko yang sebelumnya menopang harga minyak sepanjang Januari.

Selanjutnya: OJK - BEI Tawarkan Tiga Solusi Transparasi ke MSCI, Ini Rinciannya

Menarik Dibaca: Fiesta Ajak Pasangan Eksplor Agar Hubungan Seks Tak Membosankan