KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak dunia merosot tajam pada perdagangan Senin (15/6/2026) dan menyentuh level terendah sejak Maret 2026 setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran mengumumkan telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Berdasarkan data perdagangan, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun US$ 4,08 atau sekitar 4,7% menjadi US$ 83,25 per barel pada pukul 04.15 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah US$ 4,35 atau 5,1% menjadi US$ 80,53 per barel. Kedua kontrak tersebut menyentuh level terendah sejak 10 Maret setelah sebelumnya juga terkoreksi lebih dari 3% pada perdagangan Jumat lalu.
Kesepakatan AS-Iran Redakan Kekhawatiran Pasokan
Perdana Menteri Pakistan, yang negaranya berperan sebagai mediator dalam perundingan, menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran akan menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada Jumat pekan ini. Presiden Donald Trump pada Minggu menyampaikan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka tanpa pungutan biaya. "Selat Hormuz akan terbuka tanpa dikenakan biaya, dan blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran juga akan diakhiri."
Baca Juga: Bank of England Diperkirakan Tahan Suku Bunga 3,75% Meski Inflasi Mengintai Sementara itu, kantor berita semi-resmi Mehr di Iran melaporkan bahwa rancangan kesepakatan tersebut mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari dengan mekanisme yang diatur oleh Iran.
Premi Risiko Geopolitik Mulai Menghilang
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai penurunan harga minyak mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya membebani pasar. "Premi risiko geopolitik yang sebelumnya terbentuk pada harga minyak mentah kini mulai terurai dengan cukup agresif karena para pelaku pasar mulai memperhitungkan prospek pulihnya kembali arus pasokan minyak," ujarnya. Selama lebih dari tiga bulan terakhir, penutupan Selat Hormuz akibat konflik telah menghilangkan jutaan barel pasokan minyak dan gas dari pasar global. Sebagai salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, Selat Hormuz menjadi titik transit bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Baca Juga: KTT G7 di Prancis, Kesepakatan Awal AS-Iran Jadi Sorotan Utama Pasar Masih Mencermati Pemulihan Produksi
Meski konflik mulai mereda, investor masih berhati-hati terhadap kecepatan produsen di Timur Tengah dalam memulihkan produksi dan ekspor minyak setelah kerusakan akibat perang. Selain itu, pelaku pasar juga mengamati apakah aktivitas pelayaran internasional dapat segera kembali normal di kawasan tersebut. Strategis komoditas Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, mengatakan bahwa ketidakpastian tersebut memang masih membuka peluang kenaikan harga minyak hingga akhir tahun. "Meskipun ketidakpastian ini menunjukkan adanya risiko kenaikan terhadap proyeksi kami bahwa harga minyak Brent dapat mencapai US$ 80 per barel pada akhir tahun, perlu dicatat bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz hanya perlu kembali ke sekitar 60% hingga 70% dari tingkat sebelum perang untuk mengembalikan pasar minyak ke kondisi kelebihan pasokan seperti sebelum konflik," katanya.
Iran dan Negara-Negara Eropa Siapkan Langkah Lanjutan
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyampaikan bahwa kesepakatan yang lebih luas akan dinegosiasikan selama masa gencatan senjata selama 60 hari. Di sisi lain, kelompok negara E4 yang terdiri dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia juga menyatakan kesiapan untuk mencabut sanksi terhadap Iran sebagai respons atas langkah-langkah yang diambil Teheran terkait program nuklirnya.
Baca Juga: Pentagon Rilis 72 Dokumen Baru UFO, Ungkap Laporan Bola Cahaya Misterius di AS Dampak Konflik Dinilai Tidak Bisa Pulih Seketika
Analis Pasar Senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai fokus pasar kini akan bergeser dari reaksi harga menuju implementasi nyata dari kesepakatan tersebut. "Di luar reaksi harga dalam jangka pendek, perhatian kini akan beralih pada seberapa cepat normalisasi pasokan benar-benar terjadi serta kepatuhan terhadap isi kesepakatan," terangnya. Ia menambahkan bahwa meskipun konflik telah berakhir dan arus minyak melalui Selat Hormuz secara bertahap dapat kembali normal, dampak ekonomi yang telah ditimbulkan tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat. "Walaupun konflik mungkin telah berakhir dan arus minyak melalui Selat Hormuz secara bertahap kembali normal, kerusakan yang telah terjadi tidak dapat diperbaiki dalam semalam. Hal ini mencakup tidak hanya kerusakan fisik pada infrastruktur minyak, tetapi juga tekanan ekonomi yang dialami negara-negara pengimpor minyak akibat tingginya biaya energi selama berbulan-bulan," ungkapnya.