Harga minyak anjlok, kredit sektor migas seret



JAKARTA. Masa suram bisnis minyak dan gas bumi (migas) masih berlanjut. Harga minyak mentah dunia masih di kisaran US$ 50 per barel. Di level harga ini, bankir mulai menghitung imbas negatif terhadap kualitas aset. Maklum, mereka khawatir kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) kredit minyak bakal membengkak.      

Halim Alamsyah, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), mengatakan, paparan kredit minyak dan gas (migas) terhadap total kredit perbankan terbilang minim. Sehingga, nilai kredit macet terhadap kredit komoditas tidak bakal berpengaruh signifikan.

Namun, penurunan harga minyak diprediksikan akan turut mempengaruhi kucuran kredit migas dan komoditas terkait. "Selanjutnya, kami masih meneliti, apakah masih akan ada kenaikan di masa mendatang," kata Halim, akhir pekan lalu.


Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per November 2014, kredit investasi di sektor pertambangan dan penggalian turun 1,45% menjadi Rp 40,5 triliun. Adapun kredit modal kerja sektor pertambangan dan penggalian masih tumbuh 9,98% menjadi Rp 85,9 triliun per November 2014.

Gatot M. Suwondo, Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI), menyatakan, kejatuhan harga minyak dunia tak berdampak besar terhadap BNI. Karena prospeknya suram, BNI belum berselera mengucurkan kredit migas. "BNI tak membiayai core business migas. Kami masih belajar, jadi hanya melayani cash management," katanya.

 Roy Armand Affandy, Direktur Utama Bank Permata, menilai, anjloknya harga minyak dunia turut menyeret harga batubara yang selama ini menjadi substitusi energi minyak. "Tahun ini ada kemungkinan kredit turun karena tidak ada penambahan nasabah baru di sektor migas dan batubara," katanya.

Namun, selera Bank Permata terhadap sektor penopang bisnis migas masih terbuka. Tahun ini, Bank Permata memilih getol mengucurkan kredit di sektor bisnis kapal tongkang dan sebagainya. "Tapi untuk bisnis utama migas, seperti proyek pembangunan kilang minyak, tetap ada. Kemungkinan ikut kredit sindikasi," jelas Roy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News