JAKARTA. Masa suram bisnis minyak dan gas bumi (migas) masih berlanjut. Harga minyak mentah dunia masih di kisaran US$ 50 per barel. Di level harga ini, bankir mulai menghitung imbas negatif terhadap kualitas aset. Maklum, mereka khawatir kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) kredit minyak bakal membengkak. Halim Alamsyah, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), mengatakan, paparan kredit minyak dan gas (migas) terhadap total kredit perbankan terbilang minim. Sehingga, nilai kredit macet terhadap kredit komoditas tidak bakal berpengaruh signifikan. Namun, penurunan harga minyak diprediksikan akan turut mempengaruhi kucuran kredit migas dan komoditas terkait. "Selanjutnya, kami masih meneliti, apakah masih akan ada kenaikan di masa mendatang," kata Halim, akhir pekan lalu.
Harga minyak anjlok, kredit sektor migas seret
JAKARTA. Masa suram bisnis minyak dan gas bumi (migas) masih berlanjut. Harga minyak mentah dunia masih di kisaran US$ 50 per barel. Di level harga ini, bankir mulai menghitung imbas negatif terhadap kualitas aset. Maklum, mereka khawatir kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) kredit minyak bakal membengkak. Halim Alamsyah, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), mengatakan, paparan kredit minyak dan gas (migas) terhadap total kredit perbankan terbilang minim. Sehingga, nilai kredit macet terhadap kredit komoditas tidak bakal berpengaruh signifikan. Namun, penurunan harga minyak diprediksikan akan turut mempengaruhi kucuran kredit migas dan komoditas terkait. "Selanjutnya, kami masih meneliti, apakah masih akan ada kenaikan di masa mendatang," kata Halim, akhir pekan lalu.