Harga Minyak Anjlok: WTI Kembali ke Bawah US$ 100 Per Barel di Pagi Ini (2/4)



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Harga minyak turun lebih dari US$ 1 pada pagi ini karena pasar menunggu pidato Presiden Donald Trump yang dapat menandakan penarikan AS dari perang di Iran.

Kamis (2/4/2026) pukul 07.30 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 turun US$ 1,16 atau 1,15% menjadi US$ 100 per barel. 

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 turun US$ 1,41 atau 1,41% ke US$ 98,71 per barel. Kedua patokan tersebut ditutup lebih rendah pada sesi sebelumnya.


Trump mengatakan kepada Reuters pada hari Rabu (1/4/2026), beberapa jam sebelum pidato yang direncanakan pada pukul 9 malam EDT (0100 GMT pada hari Kamis), bahwa AS akan mengakhiri perang di Iran "dalam waktu dekat".

Baca Juga: Toyota, Hyundai, VW, Nissan Siapkan Investasi Jumbo di AS, Tapi Masih Tunggu Hal Ini

"Penurunan harga saham semalam semakin cepat karena meningkatnya harapan bahwa konflik Iran akhirnya akan berakhir," kata analis pasar IG, Tony Sycamore, dalam sebuah catatan.

"Pasar secara luas mengharapkan nada yang sangat lunak."

Namun, penarikan pasukan AS tidak menjamin pembukaan kembali Selat Hormuz, kata Sycamore.

"Jika AS meninggalkan wilayah tersebut tanpa kesepakatan gencatan senjata formal yang menjamin jalur pelayaran bebas dan meninggalkan sekutu regionalnya beserta aset energi mereka sangat rentan terhadap serangan Iran, premi risiko yang terus-menerus kemungkinan akan tetap ada dalam harga minyak."

Ancaman terhadap lalu lintas maritim meningkat seiring intensifikasi konflik di seluruh wilayah. Baru-baru ini, pada hari Rabu, sebuah kapal tanker minyak yang disewa oleh QatarEnergy dihantam oleh rudal jelajah Iran di perairan Qatar, kata kementerian pertahanan negara tersebut.

Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Anjlok Usai Trump Katakan AS Segera Akhiri Perang di Iran

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan pada hari Rabu bahwa gangguan pasokan akan mulai berdampak pada ekonomi Eropa pada bulan April. Benua tersebut sebelumnya terlindungi oleh kargo yang dikontrak sebelum perang dimulai.