KONTAN.CO.ID - CEO Chevron Mike Wirth memperingatkan, harga minyak mentah berpotensi kembali naik dalam beberapa bulan ke depan. Pasalnya, cadangan minyak yang sebelumnya membantu menahan lonjakan harga akibat perang Iran mulai menipis. Melansir
Reuters Jumat (11/9/2026), Wirth mengatakan, sejumlah negara telah melepas sebagian cadangan minyak mentah ke pasar sejak perang Iran pecah pada akhir Februari.
Baca Juga: Inflasi AS di Atas Ekspektasi, Peluang The Fed Kerek Suku Bunga Kian Besar Pemerintah Amerika Serikat (AS) juga melonggarkan pembatasan terhadap minyak yang disimpan di kapal tanker di laut dari negara-negara yang terkena sanksi. Namun, menurut Wirth, penyangga pasokan tersebut kini sebagian besar telah digunakan. "Lebih sulit membayangkan skenario di mana harga melunak dengan cepat. Saya pikir risiko tetap mengarah ke kenaikan dalam beberapa bulan ke depan," kata Wirth dalam konferensi energi di University of Texas at Austin. Tekanan pasokan semakin terlihat di pasar energi. Harga rata-rata diesel di AS menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya pada Kamis (10/9). Perang Iran, ditambah serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia, telah memperketat pasokan produk energi. Kontrak berjangka minyak Brent juga masih berada di jalur kenaikan sekitar 8% dalam sepekan.
Baca Juga: Redemption Private Credit BlackRock Turun, Sentimen Investor Mulai Pulih Dampak ke operasi Chevron Di sisi lain, Wirth mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump telah berkomunikasi dengan Ukraina terkait serangan terhadap infrastruktur minyak Rusia di kawasan Laut Hitam. Setelah komunikasi tersebut, Chevron melihat dampak yang lebih kecil terhadap kegiatan operasionalnya di kawasan tersebut. Chevron mengoperasikan ladang minyak Tengiz di Kazakhstan yang merupakan salah satu ladang minyak terbesar di dunia. Perusahaan asal AS tersebut juga memiliki kepemilikan di Caspian Pipeline Consortium, operator jaringan pipa ekspor yang menghubungkan Tengiz dengan Laut Hitam. Sementara itu, Chevron tetap akan mendanai rencana investasi senilai US$7 miliar untuk memperluas kegiatan produksi minyak di Venezuela.
Baca Juga: MU vs Man City, Ujian Sebenarnya Michael Carrick Setelah Start Musim yang Seret Wirth mengatakan, seluruh investasi tersebut akan dibiayai menggunakan kas yang dihasilkan dari tiga perusahaan patungan Chevron yang sudah beroperasi di Venezuela. "Kami akan sepenuhnya bergantung pada kemampuan usaha-usaha tersebut menghasilkan kas, bukan membawa uang tunai dari luar," ujar Wirth. Pekan lalu, Chevron menandatangani ketentuan kontrak baru dengan pemerintah Venezuela untuk memperluas operasi ke dua wilayah minyak baru. Ekspansi tersebut ditargetkan meningkatkan produksi Chevron di Venezuela menjadi sekitar 600.000 barel per hari pada 2031, atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan tingkat produksi saat ini.