KONTAN.CO.ID - Iran menolak perundingan damai baru dengan Amerika Serikat, demikian dilaporkan kantor berita negara Iran pada Minggu (19/4/2026), beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia mengirim utusan ke Pakistan untuk melakukan pembicaraan dan akan menyerang Iran jika Teheran tidak menerima syarat-syaratnya. “Iran menyatakan bahwa ketidakhadirannya dalam putaran kedua pembicaraan disebabkan oleh apa yang disebutnya sebagai tuntutan Washington yang berlebihan, ekspektasi yang tidak realistis, perubahan sikap yang terus-menerus, kontradiksi berulang, serta blokade angkatan laut yang masih berlangsung, yang dianggapnya sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata,” tulis kantor berita resmi Iran,
IRNA. Melansir
Reuters, Trump mengatakan militer AS telah mengambil alih sebuah kapal kargo berbendera Iran dengan cara meledakkan lubang di ruang mesin kapal tersebut.
“Kami sepenuhnya menguasai kapal mereka, dan sedang melihat apa isi muatannya!” tulis Trump di media sosial. Amerika Serikat tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran sempat mencabut lalu kembali memberlakukan blokadenya sendiri terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz, yang sebelum perang dimulai hampir dua bulan lalu menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Pengumuman Iran bahwa mereka akan menarik diri dari negosiasi muncul setelah Trump mengatakan para utusannya akan tiba di Islamabad pada Senin malam, sehari sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir.
Baca Juga: Menteri Energi AS: Harga Bensin Berpotensi Tetap di Atas US$ 3 per Galon Hingga 2027 Vance Kembali Memimpin Perundingan
Seorang pejabat Gedung Putih sebelumnya mengatakan delegasi AS akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin perundingan damai pertama perang tersebut sepekan lalu. Delegasi juga disebut akan mencakup utusan Trump Steve Witkoff dan menantu Trump Jared Kushner. Namun Trump secara terpisah mengatakan kepada ABC News dan MS Now bahwa Vance tidak akan ikut. Kemunduran diplomatik ini berpotensi memicu lonjakan baru harga minyak ketika pasar kembali dibuka setelah akhir pekan. Memasuki minggu kedelapan, perang ini telah menciptakan guncangan paling parah terhadap pasokan energi global dalam sejarah, mendorong harga minyak melonjak akibat penutupan de facto Selat Hormuz. Ribuan orang telah tewas akibat serangan AS-Israel ke Iran serta invasi Israel ke Lebanon yang dilakukan secara paralel sejak perang dimulai pada 28 Februari. Iran membalas serangan tersebut dengan meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara tetangga Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, sebelumnya mengatakan kedua pihak telah membuat kemajuan, namun masih berbeda jauh terkait isu nuklir dan Selat Hormuz. Pakistan berperan sebagai mediator utama, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif berbicara melalui telepon pada Minggu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Kantor Sharif mengatakan Pezeshkian berterima kasih atas upaya mediasi Pakistan, dalam ringkasan percakapan yang tidak menyebut penolakan Iran terhadap putaran pembicaraan berikutnya. Sekutu-sekutu Eropa, yang berulang kali dikritik Trump karena tidak membantu upaya perang, khawatir tim negosiator AS yang dianggap kurang berpengalaman mendorong kesepakatan cepat dan dangkal yang hanya mengejar sorotan media, namun meninggalkan pembicaraan lanjutan yang secara teknis rumit selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Baca Juga: Emmanuel Macron Murka! Satu Tentara Prancis Meninggal, 3 Teruluka di Konflik Lebanon Kapal Tanker Dilaporkan Dipaksa Berbalik di Selat
Dua kapal tanker gas petroleum cair (LPG) mencoba melintasi selat pada Sabtu pagi, tetapi berbalik arah setelah mencapai perairan di selatan Pulau Larak, menurut data pelacakan kapal MarineTraffic. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan kapal-kapal tersebut dipaksa berbalik oleh angkatan bersenjata Iran. Salah satu kapal tanker, yakni kapal LPG berbendera Angola bernama G Summer, kemudian berhasil keluar dari Teluk dalam upaya kedua pada Sabtu malam, dengan data menunjukkan pemiliknya berasal dari China. Pengumuman pada Jumat bahwa selat akan dibuka kembali menyebabkan penurunan harga minyak harian paling tajam dalam beberapa tahun, serta mendorong pasar saham mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Amrita Sen, pendiri lembaga pemikir Energy Aspects, memperkirakan harga minyak akan naik pada Senin ketika para pedagang kembali beraktivitas dan menyadari bahwa mereka mungkin terlalu optimistis. “Peristiwa akhir pekan, ketika Iran menembaki kapal-kapal dagang dan kembali menutup selat, menegaskan betapa rapuhnya situasi ini,” kata Sen.
Tekanan terhadap Trump Meningkat
Trump pada Minggu juga kembali mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran, melanjutkan pola ancaman serupa sepanjang perang. Ia secara mendadak mengumumkan gencatan senjata dua minggu lalu, hanya beberapa jam setelah menyatakan bahwa “seluruh peradaban Iran akan mati malam ini.” Iran mengatakan jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur sipilnya, maka Iran akan menyerang stasiun listrik dan fasilitas desalinasi (penyulingan air laut) milik negara-negara Arab Teluk.
Tonton: Gencatan Senjata Gagal Serangan Israel ke Lebanon Terus Berlanjut Tekanan untuk mencari jalan keluar perang semakin besar terhadap Trump ketika Partai Republik bersiap mempertahankan mayoritas tipis di Kongres dalam pemilu paruh waktu November mendatang, dengan harga bensin AS yang tinggi, inflasi meningkat, serta tingkat persetujuan publik terhadap Trump menurun. Pada Minggu, Pakistan tampak bersiap untuk pembicaraan baru. Dua pesawat kargo raksasa AS jenis C-17 mendarat di sebuah pangkalan udara pada Minggu sore, membawa peralatan keamanan dan kendaraan sebagai persiapan kedatangan delegasi AS, menurut dua sumber keamanan Pakistan. Otoritas kota Islamabad menghentikan transportasi umum serta lalu lintas kendaraan berat di dalam kota. Kawat berduri dipasang di sekitar Hotel Serena, tempat pembicaraan pekan lalu berlangsung. Pihak hotel juga meminta semua tamu untuk meninggalkan lokasi.