KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak tipis pada perdagangan Jumat (13/2/2026), namun tetap berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut. Meredanya kekhawatiran konflik antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah proyeksi kelebihan pasokan global tahun ini, menekan sentimen pasar energi. Melansir Reuters, kontrak minyak mentah Brent crude naik tipis 3 sen menjadi US$67,55 per barel pada awal perdagangan Asia, setelah sehari sebelumnya merosot 2,7%.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 1 sen ke US$62,85 per barel, usai terkoreksi 2,8% pada sesi sebelumnya.
Baca Juga: Kebijakan Iklim AS Berbalik Arah, Trump Cabut Regulasi Emisi Era Obama Secara mingguan, Brent diperkirakan turun sekitar 0,8%, sedangkan WTI melemah sekitar 1,1%. Tekanan terhadap harga minyak meningkat setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka peluang tercapainya kesepakatan nuklir dengan Iran dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar atas potensi serangan militer terhadap Iran yang sebelumnya sempat memicu lonjakan premi risiko geopolitik. Analis IG, Tony Sycamore mengatakan, harga minyak kini melemah di tengah sinyal bahwa Washington memberi lebih banyak waktu untuk negosiasi dengan Teheran. “Hal ini mengurangi premi risiko geopolitik dalam jangka pendek,” ujarnya dalam catatan riset. Selain faktor geopolitik, sentimen pasar juga dibebani proyeksi fundamental yang kurang mendukung.
Baca Juga: Bursa Asia Terkoreksi dari Rekor Jumat (13/20) Pagi, Saham Teknologi Terpukul Dalam laporan bulanannya, International Energy Agency (IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini lebih lemah dari perkiraan sebelumnya, sementara total pasokan diproyeksikan melampaui permintaan. Tekanan semakin besar setelah data menunjukkan lonjakan signifikan stok minyak mentah AS. Penumpukan persediaan tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar berada dalam kondisi surplus. Di sisi lain, pasar juga mencermati potensi peningkatan produksi dari Venezuela. Produksi minyak negara tersebut diperkirakan bisa kembali mendekati level sebelum sanksi, naik dari sekitar 880.000 barel per hari menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari dalam beberapa bulan ke depan. Pemerintah AS dilaporkan akan menerbitkan lebih banyak izin yang melonggarkan sanksi terhadap sektor energi Venezuela. Menteri Energi AS Chris Wright bahkan menyebut penjualan minyak Venezuela yang dikendalikan AS telah menghasilkan lebih dari US$1 miliar sejak Januari dan berpotensi menambah US$5 miliar lagi dalam beberapa bulan mendatang.
Baca Juga: Emas dan Perak Bangkit dari Level Terendah Sepekan Jumat (13/2) Pagi, Ini Pemicunya Dengan kombinasi meredanya risiko konflik Iran dan meningkatnya potensi suplai global, pasar minyak kini lebih fokus pada ancaman kelebihan pasokan dibandingkan risiko gangguan distribusi. Jika proyeksi surplus terealisasi, tekanan terhadap harga minyak berpeluang berlanjut dalam jangka menengah.