KONTAN.CO.ID - TOKYO. Harga minyak bervariasi pada hari Rabu, dengan Brent sedikit melemah tetapi WTI menguat karena kekhawatiran pasokan meningkat setelah badai musim dingin mengganggu produksi minyak mentah dan menghentikan ekspor Pantai Teluk selama akhir pekan. Rabu (28/1/2026) pukul 08.45, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Maret 2026 turun 6 sen atau 0,1% menjadi US$ 67,51 per barel. Berbeda, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Maret 2026 menguat 4 sen atau 0,1% ke US$ 62,43 per barel.
Kedua patokan tersebut melonjak sekitar 3% pada hari Selasa (27/1/2026).
Baca Juga: Dolar Terpuruk Rabu (28/1) Usai Pernyataan Trump, Euro, Yen, dan Pound Melonjak Para produsen AS kehilangan hingga 2 juta barel per hari atau sekitar 15% dari produksi nasional selama akhir pekan, menurut perkiraan analis dan pedagang, karena badai tersebut membebani infrastruktur energi dan jaringan listrik. Ekspor minyak mentah dan gas alam cair dari pelabuhan Pantai Teluk AS anjlok hingga nol pada hari Minggu, menurut layanan pelacakan kapal Vortexa. "Dampak dari gelombang dingin di AS dan kekhawatiran atas gangguan pasokan di Kazakhstan mendukung harga, tetapi begitu kekhawatiran pasokan mereda, tekanan jual kemungkinan akan kembali," kata Toshitaka Tazawa, seorang analis di Fujitomi Securities. Ia menambahkan bahwa keseimbangan antara proyeksi surplus pasokan tahun ini dan risiko geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah, dapat membuat harga WTI tetap berada di sekitar $60 per barel untuk saat ini. Ladang minyak terbesar Kazakhstan, Tengiz, kemungkinan akan memulihkan kurang dari setengah produksi normalnya pada 7 Februari karena perlahan pulih dari kebakaran dan pemadaman listrik, menurut dua sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters. Operator pipa CPC mengatakan telah kembali ke kapasitas pemuatan penuh di terminal Laut Hitam setelah menyelesaikan pemeliharaan di salah satu dari tiga titik tambatannya. Sebuah kapal induk AS dan kapal perang pendukung telah tiba di Timur Tengah, menurut dua pejabat AS kepada Reuters pada hari Senin, memperluas kemampuan Presiden Donald Trump untuk membela pasukan AS, atau berpotensi mengambil tindakan militer terhadap Iran.
Baca Juga: Merger & Akuisisi di 2025 Naik 40%, Bain & Company Proyeksi di Tahun Ini Tetap Kuat Dari sisi penawaran, OPEC+, atau "Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak ditambah Rusia dan sekutu lainnya," diperkirakan akan mempertahankan penundaan peningkatan produksi minyak untuk bulan Maret pada pertemuan tanggal 1 Februari, demikian menurut tiga delegasi OPEC+ kepada Reuters.
Persediaan minyak mentah dan bensin AS diperkirakan meningkat pada pekan yang berakhir 23 Januari, sementara persediaan distilat kemungkinan menurun, menurut jajak pendapat Reuters yang lebih luas pada hari Selasa. Namun, persediaan minyak mentah dan bensin AS menurun sementara persediaan distilat meningkat pekan lalu, kata sumber pasar, mengutip angka dari American Petroleum Institute pada hari Selasa.