KONTAN.CO.ID - CALGARY. Minyak mentah Brent bergerak tipis pada hari Jumat, tetapi tetap berada di jalur pelemahan dalam pekan ini, setelah Israel dan Hizbullah sepakat untuk gencatan senjata di Lebanon tetapi Iran menetapkan syarat untuk menggunakan Selat Hormuz yang vital. Jumat (19/6/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 ditutup menguat 72 sen atau 0,9%, menjadi US$ 80,57 per barel. Dengan posisi ini, maka Brent sudah melemah 7,7% sepanjang pekan ini. Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli 2026 tidak melakukan penutupan karena pasar Amerika Serikat (AS) libur. Volume perdagangan relatif rendah karena hari libur federal AS.
Produsen Teluk bersiap untuk meningkatkan ekspor setelah Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata yang dimulai pukul 16.00 waktu setempat (1300 GMT) pada hari Jumat.
Baca Juga: Ekspor Emas Swiss Merosot 9% di Bulan Mei Akibat Anjloknya Pengiriman ke India Setidaknya empat kapal tanker yang membawa minyak mentah, produk minyak, dan gas petroleum cair memasuki Selat Hormuz pada hari Jumat, menuju pelabuhan-pelabuhan Teluk Irak, menurut data MarineTraffic. Meskipun terjadi peningkatan aktivitas, Iran mengisyaratkan pengawasan yang lebih ketat terhadap pelayaran, dengan televisi pemerintah melaporkan bahwa kapal harus berkoordinasi dengan angkatan laut Garda Revolusi untuk transit. Dalam sebuah pengumuman tanpa tanggal yang diedarkan kepada industri maritim dalam 24 jam terakhir dan dilihat oleh Reuters, Otoritas Selat Teluk Persia Iran mengatakan "tidak ada kapal yang diizinkan untuk melewati Selat Hormuz tanpa izin pelayaran yang sah yang dikeluarkan oleh PGSA". Kekhawatiran seputar persyaratan Iran untuk menggunakan selat tersebut membantu mendorong harga minyak lebih tinggi pada hari Jumat, kata Rory Johnston, pendiri buletin Commodity Context. "Pasar memperkirakan adanya kesepakatan dan eksekusi yang cukup lancar, dan tampaknya bukan itu yang kita dapatkan sejauh ini," kata Johnston. Terlepas dari kenaikan pada hari Jumat, Brent yang turun sekitar 8% dari minggu sebelumnya, mencerminkan penurunan signifikan kekhawatiran pasokan setelah kesepakatan AS-Iran untuk mengakhiri perang. "Meskipun (harga minyak) belum mencapai titik seperti sebelum perang dimulai, tampaknya kita menuju ke arah itu," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, menambahkan bahwa pasokan lebih lanjut diperkirakan akan mengalir dalam beberapa hari mendatang.
Baca Juga: Pentagon Butuh US$80 Miliar untuk Menutup Biaya Perang Iran dan Belanja Lain "Penundaan pengiriman kapal dapat bergerak lebih cepat daripada yang diperkirakan beberapa orang, dan jika ada kerja sama antara Iran dan AS, prosesnya dapat berjalan cukup cepat," tambah Flynn. Pertemuan yang direncanakan antara pejabat Iran dan AS di Swiss pada hari Jumat telah ditunda, dengan persiapan sedang dilakukan untuk pembicaraan dalam beberapa hari mendatang, kata Kementerian Luar Negeri Iran pada hari Jumat. Kementerian mengatakan pertemuan itu tidak lagi mendesak karena nota kesepahaman tentang pengakhiran perang telah ditandatangani secara digital antara kedua belah pihak. Analis memperkirakan kesepakatan tersebut akan melepaskan lebih dari 85 juta barel minyak yang terperangkap di Teluk Timur Tengah ke pasar global. Kesepakatan itu juga mencakup pencabutan sanksi AS terhadap minyak Iran, yang akan menambah pasokan. Sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global melewati Selat Hormuz, tetapi pemulihan arus dan produksi setelah kesepakatan AS-Iran dapat memakan waktu beberapa bulan. Citi mengatakan skenario dasarnya, dengan probabilitas 60%, memperkirakan normalisasi arus yang berkelanjutan, dengan pasar minyak bergerak menuju surplus dan harga cenderung turun selama enam hingga 12 bulan ke depan menjadi sekitar $60 hingga $65 per barel pada kuartal pertama tahun 2027.
Baca Juga: Minyak Brent Turun ke US$ 79 per Barel, Israel-Hezbollah Sepakat Gencatan Senjata Commerzbank mengatakan pasokan minyak akan pulih secara bertahap, menurunkan perkiraan Brent menjadi $80 per barel pada akhir tahun dari $85, sementara memperkirakan harga akan tetap di atas level sebelum perang untuk sebagian besar tahun mendatang. Ladang minyak Irak siap untuk melanjutkan produksi dan output akan secara bertahap kembali normal, memulihkan tingkat sebelumnya, kata Menteri Perminyakan Basim Mohammed. Dari sisi permintaan, permintaan dunia akan meningkat menjadi 113,3 juta barel per hari pada tahun 2030 dari 105,1 juta barel per hari pada tahun 2025, kata OPEC dalam Laporan Prospek Minyak Dunia 2026.