KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan harga minyak dunia masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, terutama menyangkut keamanan distribusi energi melalui Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat pasar mempertahankan premi risiko pada harga minyak Brent, meski arah pergerakan selanjutnya masih sangat bergantung pada perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat. Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (18/8/2026) pukul 20.17 WIB, harga minyak Brent berada di level US$ 91,116 per barel, naik 0,27% dari perdagangan sebelumnya. Dalam sepekan, harga Brent telah menguat 2,55%, sedangkan secara tahunan masih mencatat kenaikan sebesar 38,59%.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan mengatakan, kenaikan harga minyak saat ini masih lebih dominan didorong oleh faktor geopolitik dan kekhawatiran terhadap distribusi pasokan, khususnya melalui Selat Hormuz. “Pasar sekarang bukan hanya mempertanyakan apakah minyak tersedia, tetapi apakah minyak tersebut bisa didistribusikan secara normal,” ujar Brahmantya.
Baca Juga: Menilik Prospek Emiten Danantara Kala Target Dividen BUMN Naik ke Rp 200 T pada 2026 Menurut dia, selama belum terdapat kepastian mengenai kondisi Selat Hormuz, premi risiko geopolitik (geopolitical risk premium) masih akan melekat pada harga minyak, khususnya Brent. Perkembangan di Selat Hormuz menjadi semakin penting karena kesepakatan terkait jalur tersebut dinilai berpotensi membuka jalan bagi pembicaraan AS-Iran yang lebih luas. Sebaliknya, apabila pembicaraan Iran-Oman menemui jalan buntu atau terjadi serangan baru terhadap kapal maupun infrastruktur energi, risiko gangguan distribusi minyak berpotensi kembali meningkat.
Harga Minyak Brent Bisa Tembus US$ 120
Dalam skenario eskalasi tersebut, Brahmantya melihat kenaikan harga minyak Brent dapat berlangsung lebih cepat. Jika konflik AS-Iran kembali meningkat dan distribusi melalui Selat Hormuz semakin terganggu, harga Brent berpotensi menembus US$ 120 per barel. “Jika konflik kembali meningkat dan Hormuz semakin terganggu, Brent masih berpeluang menembus US$ 120 per barel. Dalam skenario yang lebih ekstrem, area US$ 120–US$ 130 masih mungkin terjadi,” jelasnya. Kendati demikian, Brahmantya menilai level US$ 120-US$ 130 per barel merupakan skenario ekstrem. Untuk proyeksi dasar hingga akhir 2026, ia masih mempertahankan outlook harga minyak Brent di kisaran US$ 95-US$ 110 per barel. Artinya, ruang kenaikan harga masih terbuka dari posisi Brent saat ini apabila risiko geopolitik terus meningkat. Namun, pasar juga tetap menghadapi potensi koreksi jika ketegangan di kawasan Timur Tengah mulai mereda.
Baca Juga: Raih Pendanaan Garap Fiber Optic, Saham PADA dan INET Kompak Sentuh ARA Selat Hormuz Jadi Penentu Harga Minyak
Kesepakatan Iran-Oman terkait Selat Hormuz yang kemudian membuka jalan bagi negosiasi AS-Iran berpotensi mengurangi premi risiko geopolitik secara cepat.
Apabila kondisi tersebut terwujud, normalisasi distribusi minyak melalui Selat Hormuz dapat meredakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global. Dampaknya, tekanan terhadap harga minyak Brent berpotensi berkurang dan membuka ruang koreksi dari level saat ini. Dengan demikian, perkembangan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang akan menentukan arah harga minyak Brent hingga akhir 2026. Selama risiko gangguan distribusi dan eskalasi konflik masih tinggi, Brent berpotensi bergerak menuju kisaran US$ 95-US$ 110 per barel. Namun, jika konflik kembali memanas dan gangguan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut semakin parah, harga minyak Brent berpeluang menembus US$ 120 per barel, bahkan menuju area US$ 120-US$ 130 dalam skenario ekstrem. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News