Harga Minyak Brent Melesat: Proyeksi US$150/Barel Jadi Nyata?



KONTAN.CO.ID - Sejumlah lembaga keuangan global merevisi naik proyeksi harga minyak untuk 2026, seiring berlanjutnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang telah mendorong harga minyak melonjak lebih dari 50% sepanjang bulan ini.

Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent rata-rata 2026 menjadi US$85 per barel dari sebelumnya US$77.

Revisi ini didorong oleh gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz serta peningkatan penimbunan cadangan strategis yang memperketat pasokan global.


Baca Juga: Rupiah Terus Melemah ke Rp 16.986 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (23/3)

Sementara itu, JPMorgan memperkirakan harga Brent akan rata-rata mencapai US$100 per barel pada kuartal II-2026, sebelum turun ke kisaran US$80 per barel pada akhir tahun.

Pada perdagangan Senin (23/3), harga minyak relatif stabil di level tinggi. Minyak Brent berada di sekitar US$112,18 per barel, mendekati level tertinggi sejak Juli 2022, sementara minyak mentah AS jenis WTI berada di kisaran US$98,75 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya risiko geopolitik. Iran memperingatkan akan menyerang infrastruktur energi dan air di kawasan Teluk jika AS melanjutkan ancaman serangan terhadap jaringan listriknya.

Konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga pekan ini meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Sejumlah lembaga lain juga memperbarui proyeksi mereka. Standard Chartered memperkirakan harga Brent bisa mencapai rata-rata US$85,5 per barel pada 2026.

Sementara Bank of America memproyeksikan rata-rata harga Brent di kisaran US$77,5 per barel tahun depan.

Baca Juga: Rencana Dual Listing Merdeka Gold (EMAS) Makin Dekat, Ajukan IPO di Hong Kong

Barclays bahkan menilai harga minyak bisa melonjak hingga US$100 per barel jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung selama 4–6 pekan.

Lebih ekstrem, Macquarie memperingatkan harga minyak berpotensi melonjak hingga US$150 per barel atau lebih jika jalur distribusi utama tersebut tetap tertutup dalam waktu lama.

Adapun UBS menilai harga minyak bisa menembus di atas US$100 per barel, bahkan masuk ke kisaran US$120 per barel jika gangguan pasokan semakin parah, yang pada akhirnya berisiko menekan permintaan global.

Secara keseluruhan, para analis sepakat bahwa arah harga minyak ke depan sangat bergantung pada durasi konflik dan seberapa cepat distribusi melalui Selat Hormuz dapat kembali normal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News