Harga Minyak Brent Melonjak Imbas Ancaman Trump Terkait Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak mentah Brent naik lebih dari US$ 1 per barel pada Kamis (23/4/2026) menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menyerang kapal-kapal yang memasang ranjau di Selat Hormuz, yang menimbulkan keraguan tentang kelangsungan gencatan senjata dalam perang dengan Iran. 

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik US$ 1,26, atau 1,24%, menjadi US$ 103,17 per barel pada pukul 9:19 pagi CDT (1419 GMT) setelah menetap di atas US$ 100 untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua minggu pada hari Rabu. Harga minyak mentah West Texas Intermediate berjangka naik 72 sen, atau 0,77%, menjadi $93,68.

Iran memamerkan cengkeramannya yang semakin ketat atas Selat Hormuz dengan video komando mereka yang menyerbu kapal kargo besar, setelah runtuhnya perundingan perdamaian yang diharapkan Washington akan membuka koridor pelayaran terpenting di dunia.


Baca Juga: Konflik Iran Berkepanjangan, Biaya Operasi Kemanusiaan Global Semakin Mahal

Trump mengatakan dalam sebuah unggahan di situs Truth Social bahwa dia telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak dan membunuh kapal apa pun yang memasang ranjau di selat tersebut. 

Kedua indeks acuan ditutup lebih dari US$ 3 lebih tinggi pada hari Rabu setelah kurangnya kemajuan dalam perundingan perdamaian dan penarikan stok bensin dan distilat AS yang lebih besar dari perkiraan. 

"Pasar mungkin sekarang berada di ambang pergeseran dari 'kesepakatan sudah dekat' menjadi 'ini mungkin akan memakan waktu lebih lama.' Jika harapan pembukaan kembali pada awal Mei gagal... maka harga kemungkinan akan naik kembali, baik untuk minyak mentah maupun produk," kata Bjarne Schieldrop, seorang analis di SEB. 

Meskipun Trump memperpanjang gencatan senjata antara kedua negara setelah permintaan dari mediator Pakistan, Iran dan AS masih membatasi transit kapal melalui selat tersebut, yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak global harian hingga dimulainya perang pada 28 Februari. 

Baca Juga: Dolar Berotot, Bersiap Catat Kenaikan Mingguan di Tengah Memanasnya Konflik Iran-AS

Trump, tanpa memberikan bukti apa pun, mengatakan pada hari Kamis bahwa AS memiliki kendali penuh atas selat tersebut, dan bahwa selat itu "ditutup rapat" sampai Iran mencapai kesepakatan. 

Iran menyita dua kapal di jalur air tersebut pada hari Rabu. Trump juga mempertahankan blokade Angkatan Laut AS terhadap perdagangan laut Iran sementara negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan gencatan senjata penuh hanya masuk akal jika blokade dicabut. 

Namun, sekitar 10,7 juta barel ekspor minyak mentah Iran melintasi selat tersebut dan meninggalkan area yang diblokade oleh Angkatan Laut AS antara 13 dan 21 April, menurut perusahaan analisis data Vortexa. 

Militer AS telah mencegat setidaknya tiga kapal tanker berbendera Iran di perairan Asia dan mengalihkan mereka dari posisi di dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka, kata sumber-sumber perkapalan dan keamanan pada hari Rabu.

Trump belum menetapkan tanggal berakhirnya gencatan senjata yang diperpanjang, kata sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan. 

Total ekspor minyak mentah dan produk petroleum AS naik 137.000 barel per hari menjadi rekor 12,88 juta barel per hari pekan lalu, karena negara-negara Asia dan Eropa membeli pasokan setelah gangguan akibat perang, kata Badan Informasi Energi pada hari Rabu.

Stok minyak mentah AS meningkat, sementara persediaan bensin dan distilat menurun.