KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah Brent kembali menguat mendekati level US$100 per barel pada Rabu (9/9/2026), di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Pergerakan harga minyak tersebut turut membebani sentimen pasar saham Asia menjelang rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS). Penguatan harga minyak terjadi ketika pelaku pasar mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi global sekaligus mendorong kenaikan harga komoditas dan tekanan inflasi.
Harga minyak Brent untuk kontrak berjangka naik US$1,10 menjadi US$99,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat US$0,93 menjadi US$93,95 per barel. Kenaikan tersebut menjadi penguatan harga minyak untuk sesi keempat berturut-turut.
Baca Juga: Inggris Perketat Sanksi Iran, Akses Keuangan hingga Penerbangan Dibatasi Eskalasi konflik semakin meluas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan ke sejumlah kota di Arab Saudi pada Selasa. Arab Saudi merupakan sekutu AS di kawasan dan memiliki posisi strategis dalam produksi serta ekspor minyak dunia. Di sisi lain, pasukan AS menyerang sejumlah kapal tanker minyak Iran, sementara Iran melakukan serangan terhadap sebuah pangkalan militer AS di Yordania. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Pasar Saham Asia Bergerak Beragam
Tekanan dari kenaikan harga minyak membuat sejumlah bursa saham Asia bergerak melemah. Indeks Nikkei Jepang turun 0,2%, sementara Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,3%. Indeks saham unggulan China CSI300 bergerak relatif datar. Namun, penguatan saham semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) membantu menopang sejumlah pasar regional. Indeks KOSPI Korea Selatan melonjak 1,2%, sedangkan indeks saham Taiwan TAIEX naik tipis 0,2%. Pada perdagangan sebelumnya, indeks Philadelphia Semiconductor juga menguat 1,3%, meskipun tiga indeks utama Wall Street mengalami penurunan. Kontrak berjangka S&P 500 AS naik 0,1% setelah indeks acuan tersebut turun 0,6% pada perdagangan Selasa. Sementara itu, kontrak berjangka STOXX 50 Eropa melemah 0,5%. Chris Weston, Head of Research Pepperstone, mengatakan pasar masih menunjukkan ketidakpastian dalam menentukan arah. "Di beberapa pasar makro utama, kami melihat keraguan dalam pergerakan harga -- rentang perdagangan yang ketat dan pola bertahan atau konsolidasi secara umum," kata Weston dalam catatan kepada klien. Menurutnya, pergerakan harga minyak Brent menjadi salah satu indikator paling jelas untuk membaca sentimen pasar secara langsung. "Brent saat ini merupakan salah satu sinyal real-time paling jelas untuk sentimen pasar secara keseluruhan," ujarnya. Weston menambahkan bahwa harga Brent berpotensi menembus level psikologis US$100 per barel.
Baca Juga: Harga Tinggi, Permintaan Minyak China Diprediksi Turun 8,9% "US$100 sekarang terasa seperti level yang sangat mungkin dicapai," katanya.
Inflasi Jadi Perhatian Investor
Kenaikan harga minyak dan eskalasi konflik Timur Tengah kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Dalam beberapa pekan terakhir, kekhawatiran inflasi telah menekan pasar saham global sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Investor kini menantikan data indeks harga konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan dirilis pada Jumat. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang yang hampir berimbang antara penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin dan mempertahankan suku bunga oleh The Fed pada pertemuan kebijakan pekan depan. Sebaliknya, pasar hampir sepenuhnya memperkirakan Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dua hari setelah keputusan The Fed.
Yen Menguat, Pasar Antisipasi Kebijakan BOJ
Yen Jepang juga kembali menguat terhadap dolar AS. Yen naik sekitar 0,5% menjadi 153,32 per dolar AS, mendekati level 152,89 yang dicapai pada sesi sebelumnya. Dalam lima sesi perdagangan terakhir, yen telah menguat sekitar 4%. Pergerakan tersebut terjadi setelah sejumlah pejabat BOJ mengeluarkan pernyataan yang dinilai lebih hawkish atau mengarah pada pengetatan kebijakan moneter. Pelaku pasar mengatakan komentar tersebut menjadi pemicu awal penguatan yen. Setelah sejumlah level teknikal penting ditembus, aksi beli terhadap yen semakin meningkat. Penguatan yen juga didorong oleh aksi pelaku pasar menutup posisi short terhadap mata uang Jepang, seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ serta potensi repatriasi modal Jepang.
Baca Juga: 10 Tahun Digarap, iPhone Ultra Jadi Warisan Produk Tim Cook Euro Menguat Jelang Keputusan ECB
Perhatian pasar juga tertuju pada keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) yang dijadwalkan pada Kamis. ECB hampir dipastikan menaikkan suku bunga zona euro sebesar 25 basis poin, di tengah tekanan inflasi yang meningkat akibat konflik Iran. Euro menguat 0,1% menjadi US$1,1634 dan berada di tengah rentang pergerakan yang relatif sempit selama tiga pekan terakhir. Sementara itu, pound sterling relatif stabil di US$1,3552. Bank of England (BoE) dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter pada Kamis pekan depan.
Para ekonom memperkirakan suku bunga utama BoE akan dipertahankan hingga akhir tahun. Dolar Australia juga menguat 0,2% menjadi US$0,7230.
Bitcoin dan Emas Ikut Menguat
Di pasar aset lainnya, Bitcoin bergerak naik tipis dan diperdagangkan pada level US$79.009,09. Harga emas juga mencatat penguatan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran inflasi. Harga emas naik 0,7% menjadi sekitar US$4.385 per ons.