Harga Minyak Brent Menuju Rekor Bulanan, Wall Street Menguat di Tengah Perang Iran



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali menguat pada awal pekan ini, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi dan resesi global.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik 0,35% ke level US$112,94 per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) melonjak 2,17% ke US$101,78 per barel pada perdagangan Senin (30/3/2026).

Baca Juga: The Fed Awasi Sektor Private Credit, Jerome Powell: Belum Ada Risiko Sistemik


Kenaikan ini terjadi di tengah konflik yang semakin meluas setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta ancaman terhadap jalur distribusi energi global di Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, pihaknya tengah melakukan pembicaraan serius dengan pihak Iran untuk mengakhiri konflik.

Namun, ia kembali memperingatkan Teheran agar membuka Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap fasilitas minyak dan pembangkit listrik.

Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menegaskan komitmen bank sentral AS untuk menurunkan inflasi ke target 2%, sambil mencermati dampak konflik terhadap perekonomian.

Baca Juga: Perang Iran Redupkan Prospek Ekonomi Global, IMF Peringatkan Risiko Inflasi

Wall Street dan Bursa Eropa Menguat

Di pasar saham, indeks utama Wall Street mencatat penguatan. Dow Jones Industrial Average naik 0,53% ke 45.407,33, sementara S&P 500 menguat 0,20% ke 6.381,69. Namun, Nasdaq Composite sedikit melemah 0,06% ke 20.936,62.

Sementara itu, bursa Eropa juga mencatat kenaikan. Indeks STOXX 600 naik 0,58% dan FTSEurofirst 300 menguat 0,56% di tengah perdagangan yang fluktuatif.

Risiko Inflasi dan Resesi Membayangi

Ketegangan di kawasan Teluk telah mendorong lonjakan harga berbagai komoditas, mulai dari minyak, gas, pupuk, hingga aluminium.

Baca Juga: Powell: The Fed Pilih “Wait and See” Dampak Perang Iran terhadap Ekonomi

Bahkan, harga aluminium melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir setelah serangan terhadap produsen di Timur Tengah.

Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga barang lain seperti pangan, farmasi, dan produk petrokimia, sekaligus meningkatkan tekanan inflasi global.

Analis menilai, jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lebih lama, harga minyak bisa melonjak hingga US$150 per barel.

Hal ini tentu akan membatasi pasokan energi bagi sektor industri dan memperlambat aktivitas ekonomi global.

Baca Juga: Ultimatum Baru Trump ke Iran: Selat Hormuz Harus Terbuka, Atau Hancur!

Tekanan Terasa di Asia

Dampak paling besar dirasakan di kawasan Asia yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.

Indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang turun 1,96%, sementara indeks Nikkei Jepang melemah 2,79%.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,338%, sementara yield tenor 2 tahun turun ke 3,822%, mencerminkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

Di tengah volatilitas pasar, dolar AS menguat sebagai aset safe haven, meski sempat melemah terhadap yen Jepang di tengah potensi intervensi otoritas Jepang.

Sementara itu, harga emas spot naik 0,91% ke US$4.533,22 per ons troi, didorong meningkatnya permintaan aset lindung nilai.