KONTAN.CO.ID - Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Rabu (30/9/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah laporan bahwa pemerintahannya bersedia melonggarkan sanksi terhadap Iran. Harga minyak sebelumnya tertekan karena pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah mulai pulih. Namun, ketidakpastian terkait hubungan AS-Iran kembali menjadi perhatian pasar.
Baca Juga: Boeing Menang Kontrak US$20 Miliar untuk Jet Tempur Generasi Keenam AS Melansir
Reuters, Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman berjangka naik US$1,14 atau 1,11% menjadi US$103,73 per barel pada pukul 0131 GMT. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 34 sen atau 0,38% menjadi US$89,72 per barel. Sepanjang September, harga Brent berada di jalur kenaikan sekitar 14%, yang akan menjadi penguatan bulanan terbesar sejak Juli. Sementara itu, WTI diperkirakan naik sekitar 4% setelah sempat menembus US$106 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Selisih harga antara Brent dan WTI juga melebar ke level tertinggi dalam empat bulan pada September. Pergerakan tersebut dipengaruhi perhatian pasar terhadap kemungkinan AS membatasi ekspor solar atau diesel, yang berpotensi meningkatkan pasokan di pasar domestik AS dan mendorong kilang mengurangi pengolahan minyak mentah. Trump juga mempertimbangkan opsi mengizinkan penjualan diesel berwarna merah sebagai alternatif dari larangan ekspor. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memberikan tekanan harga yang lebih rendah kepada konsumen menjelang pemilu paruh waktu AS pada November. "Bukti lebih lanjut mengenai pemulihan aliran minyak melalui Selat Hormuz, harapan munculnya alternatif terhadap pembatasan ekspor diesel AS, serta tidak adanya eskalasi signifikan dari Iran dalam 24 jam terakhir telah membuat harga sedikit turun," kata Saul Kavonic, Head of Energy Research di MST Marquee. Namun, menurut dia, situasi pasar minyak masih volatil dengan biaya logistik yang mahal dan terbatas.
Baca Juga: Dolar AS Menguat 2,5% terhadap Euro pada September, Terkuat 14 Bulan Diplomasi AS-Iran Qatar pada Selasa mengatakan berharap diplomasi antara Iran dan AS dapat menghasilkan terobosan dalam upaya mengakhiri konflik. "Kami bertukar pesan antara kedua pihak dan berupaya membangun titik temu untuk mencapai kesepakatan yang dapat menyelamatkan kita semua dari dampak konflik," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari kepada wartawan. Namun, Trump membantah laporan Axios yang mengutip pejabat AS bahwa dirinya bersedia memberikan keringanan sanksi kepada Iran serta membuka akses terhadap dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklirnya. "Ini tidak benar. Saya tidak menawarkan apa pun kepada mereka," tulis Trump melalui Truth Social. Di sisi pasokan, Arab Saudi pada Selasa kembali melakukan pengisian minyak ke kapal tanker dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah mengaktifkan kembali operasi melalui East-West Pipeline. Ekspor minyak mentah dari produsen Timur Tengah juga meningkat pada September menjadi 16,328 juta barel per hari. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari.
Baca Juga: Bursa Australia Naik Tipis Rabu (30/9), Menanti Data Inflasi dan Arah Suku Bunga Stok minyak AS jadi perhatian Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi data persediaan energi AS. Persediaan minyak mentah dan bensin AS meningkat pada pekan lalu, sementara stok produk sulingan atau distillate turun, menurut sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute (API).
Persediaan minyak mentah AS meningkat 1,02 juta barel pada pekan yang berakhir 25 September. Pasar selanjutnya menunggu data resmi persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu pukul 10.30 waktu setempat atau 14.30 GMT. Analis yang disurvei Reuters memperkirakan persediaan minyak mentah dan produk minyak AS mengalami penurunan.
Baca Juga: Harga Emas Turun Hampir 6% September, Investor Pantau Inflasi AS