Harga Minyak Brent Tembus ke US$ 100, Seiring Meningkatnya Konflik di Timur Tengah



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak Brent akhirnya kembali tembus ke atas US$ 100 per barel untuk pertama kali sejak 24 Juli 2026. Konflik yang kian memanas di Timur Tengah memicu kekhawatiran mengenai pasokan minyak dari kawasan tersebut.

Rabu (9/9/2026) pukul 14.30 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2028 US$ 2,15, atau 2,2%, menjadi US$ 100,07 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 menguat US$ 1,70 atau 1,83% ke  US$ 94,73 per barel.


Baca Juga: Bangun Infrastruktur AI di Finlandia, Google Rogoh Kocek Hingga Rp 263,25 Triliun

Harga minyak mentah Brent telah melonjak sekitar seperempat nilainya sejak awal bulan lalu seiring memudarnya harapan akan penyelesaian permanen bagi konflik AS-Iran yang telah berlangsung selama enam bulan.

Pekan ini, serangan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap fasilitas energi Arab Saudi menyebabkan kebakaran pada instalasi minyak, sehingga memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik secara signifikan.

Serangan Houthi tersebut dapat mengancam pengiriman minyak mentah melalui Laut Merah, yang selama ini menjadi jalur alternatif utama selain Selat Hormuz yang krusial—di mana arus minyak mentah telah sangat terganggu sejak dimulainya perang Iran pada 28 Februari.

Sejumlah bank, termasuk Goldman Sachs, Bank of America, dan HSBC, telah menaikkan perkiraan harga minyak mentah mereka dalam beberapa hari terakhir.

Pada pekan sebelum pertempuran kembali pecah pada 30 Agustus, sekitar 8 juta hingga 9 juta barel per hari (bpd) minyak mengalir melalui Selat Hormuz—dua kali lipat dari volume pekan sebelumnya—menurut Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti; meskipun belakangan ini angka tersebut telah turun hingga di bawah 2 juta bpd.

Baca Juga: Amazon Mulai Jual Obligasi Pound Sterling untuk Danai Ekspansi AI

Meskipun produsen minyak non OPEC—termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Guyana—telah meningkatkan produksi, Badan Energi Internasional (IEA) bulan lalu memperkirakan pasokan minyak global akan turun sebesar 4,3 juta barel per hari (bpd) tahun ini, atau sekitar 4%.