Harga Minyak Brent Tembus US$ 119 per Barel, Efek Serangan Iran ke Qatar Energy



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak mentah acuan brent melonjak lebih dari US$ 119 per barel pada Kamis (19/3/2026), setelah Iran menyerang fasilitas energi di Timur Tengah menyusul serangan Israel ke ladang gas South Pars, eskalasi besar dalam konflik regional.

Kontrak berjangka Brent naik US$ 6,02 atau 5,6% menjadi US$ 113,40 per barel pada pukul 19.37 WIB. Sebelumnya, Brent sempat naik lebih dari US$ 11 mencapai puncak US$ 119,13, mendekati level tertinggi tiga setengah tahun yang tercatat pada 9 Maret.

Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 7 sen atau 0,1% menjadi US$ 96,39 per barel, setelah sebelumnya sempat naik hampir US$ 4 ke US$ 100,02. Minyak WTI kini diperdagangkan dengan diskon terbesar terhadap Brent dalam 11 tahun.


Baca Juga: BOE Pertahankan Suku Bunga 3,75%, Waspadai Inflasi Akibat Konflik Timteng

Di kawasan Timur Tengah, premi minyak Dubai dan Oman mencapai rekor tertinggi sekitar US$ 65 per barel, menurut sumber perdagangan dan data Reuters.

Israel menyerang ladang gas South Pars milik Iran, tetapi Amerika Serikat dan Qatar tidak terlibat, kata Presiden AS Donald Trump pada Rabu malam. South Pars merupakan sektor Iran dari cadangan gas alam terbesar dunia yang berbagi wilayah dengan Qatar. 

Trump menambahkan, Israel tidak akan menyerang fasilitas South Pars lagi kecuali Iran menyerang Qatar, dan AS juga akan merespons jika Iran melakukan tindakan terhadap Doha.

Serangan rudal Iran ke fasilitas Ras Laffan milik QatarEnergy, tempat pabrik LNG terbesar dunia, menimbulkan “kerusakan luas” dan juga menghentikan produksi pabrik Pearl gas-to-liquids milik Shell yang berkapasitas 140.000 barel per hari.

Harga gas Eropa melonjak ke level tertinggi lebih dari tiga tahun. Saudi Arabia mengumumkan telah mencegat empat rudal balistik dan serangan drone terhadap fasilitas gas. 

Kilang SAMREF milik Saudi Aramco di pelabuhan Yanbu, di mana Exxon memegang saham, juga diserang, menyebabkan gangguan sementara pada pengiriman minyak yang kini telah pulih.

Kuwait Petroleum Corporation melaporkan kilang Mina al-Ahmadi terkena serangan drone, menimbulkan kebakaran terbatas.

Sebelumnya, Reuters melaporkan pemerintahan Trump mempertimbangkan untuk mengerahkan ribuan pasukan AS guna memperkuat operasi di Timur Tengah, di tengah risiko kenaikan harga energi yang berkelanjutan menjelang pemilu November.

Baca Juga: Harga Emas Anjlok ke Level Terendah Sejak Februari Akibat Penguatan Dollar AS

Kenaikan harga minyak ini datang di tengah ekspektasi inflasi global yang meningkat, sementara The Fed baru-baru ini mempertahankan suku bunga dan memproyeksikan inflasi tetap tinggi akibat dampak perang.