Harga Minyak Brent Tembus US$ 70 Per Barel, Ancaman Serangan AS ke Iran Jadi Pemicu



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak berjangka Brent melonjak pada Kamis (29/1/2026), mencapai level tertinggi empat bulan karena meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat OPEC, dengan produksi 3,2 juta barel per hari.

"Kekhawatiran pasar saat ini... adalah kerusakan tambahan yang akan terjadi jika Iran menyerang negara-negara tetangganya atau, yang lebih penting lagi, menutup Selat Hormuz bagi 20 juta barel minyak per hari yang melewatinya," kata analis PVM, John Evans seperti dikutip Reuters.

Harga minyak mentah Brent naik US$ 1,52, atau 2,22%, menjadi US$  69,92 per barel pada pukul 1210 GMT. Pada puncaknya di tengah hari, Brent diperdagangkan setinggi US$ 70,35 per barel, tertinggi sejak akhir September 2025.


Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 1,48, atau 2,34%, menjadi US$ 64,69 per barel. Harga minyak mentah WTI sebelumnya mencapai US$ 65 per barel, juga merupakan level tertinggi dalam empat bulan.

Baca Juga: Demam Safe Haven Global, Citigroup Proyeksikan Harga Perak Akan Tembus Segini

Presiden AS Donald Trump telah meningkatkan tekanan pada Teheran untuk mengakhiri program nuklirnya, dengan ancaman serangan militer dan kedatangan kelompok angkatan laut AS di wilayah tersebut.

Trump sedang mempertimbangkan opsi yang mencakup serangan terarah terhadap pasukan keamanan dan para pemimpin untuk menginspirasi para pengunjuk rasa agar berpotensi menggulingkan penguasa Iran, demikian laporan Reuters pada hari Kamis, mengutip sumber-sumber AS yang mengetahui diskusi tersebut.

Beberapa analis memperkirakan harga yang lebih tinggi karena kekhawatiran Iran.

"Potensi Iran terkena serangan telah meningkatkan premi geopolitik harga minyak hingga berpotensi $3 hingga $4 (per barel)," kata analis Citi dalam sebuah catatan pada Rabu (28/1/2026).

Ia menambahkan eskalasi geopolitik lebih lanjut dapat mendorong harga minyak hingga setinggi US$ 72 per barel untuk Brent selama tiga bulan ke depan.

Di tempat lain, ladang minyak Tengiz yang besar di Kazakhstan sedang dihidupkan kembali secara bertahap setelah kebakaran listrik mengurangi produksi pekan lalu, dengan tujuan mencapai produksi penuh dalam seminggu.

Di AS, produsen minyak terbesar di dunia dan eksportir gas alam cair terbesar, produsen minyak mentah dan gas mengaktifkan kembali sumur-sumur setelah gangguan akibat Badai Musim Dingin Fern pada akhir pekan.

"Gangguan di Kazakhstan (terminal CPC, force majeure ladang Tengiz) telah mengurangi sejumlah besar barel dari pasar, ditambah cuaca dingin di AS yang mengganggu – meskipun sementara – produksi minyak mentah AS dan tiba-tiba pasar minyak jauh lebih ketat dari yang diperkirakan," kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Baca Juga: Bahas Opsi Serangan terhadap Iran, Pejabat Saudi dan Israel Kunjungi Washington

Selanjutnya: 4 Fakta Menarik Tentang Gen Z, Generasi Blak-Blakan yang Peduli Kesehatan Mental

Menarik Dibaca: 4 Fakta Menarik Tentang Gen Z, Generasi Blak-Blakan yang Peduli Kesehatan Mental