KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga energi global kompak melemah pada perdagangan Jumat (12/6). Optimisme tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mendorong pelaku pasar mengurangi premi risiko yang selama ini menopang harga minyak dan gas alam. Melansir Trading Economics pada Jumat (12/6/2026) pukul 18.10 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 4,5% dalam sehari ke kisaran US$ 83.782 per barel, Brent melemah 4,0% ke level US$ 86.493 per barel, sementara harga gas alam terkoreksi sekitar 3,3% dalam sehari menjadi US$ 3,05 per MMBtu. Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan koreksi serentak tersebut dipicu oleh meredanya premi risiko geopolitik di Timur Tengah setelah muncul kabar potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: BEI Kenakan Sanksi 88 Emiten karena Belum Laporkan Laporan Keuangan 2025 Menurutnya, pasar merespons bocornya draf kesepakatan damai 14 poin antara kedua negara yang memunculkan harapan terhadap normalisasi pasokan energi global. “Harapan akan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dalam 30 hari serta potensi pencabutan sanksi minyak terhadap Teheran langsung meredakan kekhawatiran pasar akan disrupsi pasokan global,” ujar Sutopo saat dihubungi Kontan, Jumat (12/6/2026). Di saat yang sama, harga gas alam AS juga menghadapi tekanan dari faktor fundamental domestik. Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) melaporkan persediaan gas alam meningkat sebesar 108 miliar kaki kubik, atau sekitar 6% di atas rata-rata lima tahunan. Kondisi tersebut diperburuk oleh penurunan volume ekspor akibat pemeliharaan berkala di sejumlah fasilitas ekspor LNG utama seperti Freeport dan Golden Pass. Sutopo menilai penurunan harga energi kali ini lebih banyak dipicu oleh perubahan ekspektasi pasar dibandingkan perubahan pasokan fisik yang terjadi secara langsung. Ia menambahkan, ekspektasi deeskalasi konflik tersebut turut mendorong pelemahan indeks dolar AS karena berkurangnya permintaan terhadap aset
safe haven. Secara teori, pelemahan dolar AS seharusnya memberikan sentimen positif bagi komoditas karena membuat harga lebih murah bagi pembeli internasional. Namun dalam kondisi saat ini, sentimen potensi kembalinya pasokan minyak Iran dinilai jauh lebih dominan dalam menentukan arah harga energi.
Baca Juga: Rupiah Menguat Hampir 1% Sepekan, Berhasil Putus Tren Pelemahan 11 Pekan Di sisi lain, kebijakan suku bunga The Fed yang masih bertahan di level tinggi juga menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan harga energi dalam jangka panjang. Suku bunga acuan The Fed saat ini dipertahankan pada kisaran 3,50% hingga 3,75%. Menurut Sutopo, suku bunga tinggi menjaga biaya pinjaman tetap mahal sehingga berpotensi menekan aktivitas ekonomi dan permintaan energi global. Untuk prospek ke depan, Sutopo memperkirakan koreksi harga energi saat ini lebih bersifat taktikal dalam jangka pendek hingga menengah. Pasar berpeluang memasuki fase konsolidasi hingga akhir kuartal III 2026 sambil menunggu realisasi dari berbagai ekspektasi yang berkembang saat ini.
Dengan asumsi kesepakatan damai antara AS dan Iran terealisasi serta pasokan minyak Iran kembali masuk ke pasar secara bertahap, harga minyak mentah WTI diperkirakan bergerak stabil di kisaran US$ 78 hingga US$ 83 per barel hingga akhir September 2026. Sementara itu, harga minyak Brent diproyeksikan berada pada rentang US$ 81 hingga US$ 86 per barel. Adapun harga gas alam AS diperkirakan bergerak pada kisaran US$ 2,8 hingga US$ 3,3 per MMBtu. Tekanan dari melimpahnya persediaan diperkirakan mulai diimbangi oleh peningkatan permintaan musiman dari sektor pembangkit listrik seiring cuaca musim panas yang lebih ekstrem di belahan bumi utara. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News