Harga Minyak dan Naphtha Bergerak, Bagaimana Nasib Chandra Asri (TPIA)?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia bergerak melemah pada perdagangan Senin (21/9/2026), sementara harga naphtha masih menguat. Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah jenis Crude Oil atau WTI melemah 3% ke kisaran US$97,288 per barel, sedangkan Brent turun 3,34% menjadi US$100,396 per barel. Di sisi lain, harga naphtha menguat 0,18% menjadi US$839,26 per ton.

Pergerakan harga komoditas tersebut menjadi perhatian bagi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), mengingat naphta merupakan salah satu bahan baku utama petrokimia. Kenaikan harga naphta berpotensi menekan margin bisnis petrokimia apabila kenaikan biaya bahan baku tidak dapat sepenuhnya diteruskan ke harga jual produk.

Baca Juga: Sekitar 50 Tambang Belum Dapat Revisi RKAB, Begini Nasib Emiten Jasa Tambang


Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, kenaikan harga naphta tidak serta-merta menjadi sentimen negatif bagi TPIA. Pasalnya, margin petrokimia lebih ditentukan oleh selisih antara harga produk dengan harga naphtha, bukan semata-mata level harga naphtha.

“Margin petrokimia ditentukan selisih harga produk dengan naphtha, bukan level naphtha. Kenaikan naphtha menekan margin jika harga produk tidak ikut naik, dan kelebihan pasokan China membatasi kemampuan meneruskan kenaikan biaya ke harga jual, jadi risiko penyempitan selisih harga,” ujar Wafi kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Meski demikian, menurut dia, profil bisnis TPIA kini sudah lebih terdiversifikasi. Melalui Aster di Singapura dan bisnis ritel bahan bakar minyak, kenaikan harga minyak justru dapat menopang segmen energi. Diversifikasi tersebut membuat dampak kenaikan harga minyak terhadap TPIA menjadi lebih berimbang dan tidak sepenuhnya negatif.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama juga menilai kenaikan harga minyak dan naphtha berpotensi menekan margin petrokimia TPIA. Tekanan terutama muncul ketika kenaikan biaya bahan baku tidak dapat diteruskan secara penuh kepada harga jual produk.

Namun, Elandry melihat TPIA saat ini memiliki profil bisnis yang lebih terdiversifikasi melalui eksposur terhadap bisnis pengolahan minyak dan energi lewat Aster di Singapura. Dengan demikian, tekanan dari bisnis petrokimia berpeluang diimbangi oleh margin dari bisnis kilang.

“Jadi, kenaikan minyak tidak lagi sepenuhnya menjadi sentimen negatif, tekanan pada petrokimia dapat sebagian diimbangi oleh peluang margin dari bisnis kilang,” kata Elandry.

Selain persoalan harga, risiko gangguan pasokan bahan baku juga perlu dicermati. Wafi mengatakan, pasokan naphta dari Timur Tengah berpotensi terganggu akibat konflik di sekitar Selat Hormuz. Meski begitu, posisi TPIA relatif lebih terlindungi karena memiliki akses pasokan dari kilang Aster serta fleksibilitas untuk menggunakan LPG sebagai bahan baku dengan bea masuk 0% berdasarkan PMK 50 Tahun 2026.

Menurut Wafi, TPIA dapat memaksimalkan peralihan bahan baku ke LPG selama insentif tersebut berlaku. Perseroan juga perlu mengoptimalkan integrasi Aster agar margin dari bisnis kilang dapat menopang segmen kimia, disertai lindung nilai harga bahan baku dan pengelolaan persediaan secara disiplin ketika harga komoditas bergejolak.

Sementara itu, Elandry menilai kenaikan harga minyak yang dipicu faktor geopolitik perlu diwaspadai karena berpotensi memicu gangguan jalur perdagangan, kenaikan biaya pengiriman, serta keterbatasan pasokan naphtha. Menurut dia, TPIA sebelumnya juga sempat menghadapi keadaan kahar pada sejumlah kontrak akibat gangguan pasokan bahan baku terkait situasi geopolitik dan Selat Hormuz.

Karena itu, diversifikasi sumber bahan baku dan kontrak pasokan jangka panjang menjadi penting bagi TPIA. Perseroan juga perlu menjaga tingkat persediaan, meningkatkan fleksibilitas bahan baku, serta memperkuat efisiensi operasional.

Di sisi kinerja, Wafi melihat prospek TPIA masih menghadapi tantangan dari kelebihan pasokan petrokimia China yang dapat menekan selisih harga produk dengan bahan baku. Namun, terdapat sejumlah katalis positif, antara lain kontribusi segmen energi, insentif LPG, investasi Danantara sebesar US$200 juta di CA-EDC, serta perkembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi atau WtE.

Adapun sentimen negatif yang perlu diperhatikan mencakup kelebihan pasokan dari China, status HSC yang membatasi minat institusi, kompleksitas integrasi sejumlah akuisisi, serta beban bunga di tengah tingkat suku bunga yang masih tinggi.

Elandry menambahkan, kinerja TPIA ke depan masih akan menghadapi volatilitas margin. Di sisi positif, kontribusi Aster, diversifikasi bisnis energi dan infrastruktur, ekspansi kapasitas, serta proyek CA-EDC yang ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal I-2027 dapat menjadi penopang.

“Investor tetap perlu mencermati kenaikan naphta, volatilitas minyak, geopolitik, pelemahan selisih harga petrokimia, serta risiko pelaksanaan dari ekspansi yang cukup agresif,” jelas Elandry.

TPIA juga menyiapkan belanja modal lebih dari US$1 miliar dalam lima tahun mendatang. Menurut Elandry, kemampuan perseroan menghasilkan arus kas dari aset baru akan menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan investor.

Dari sisi diversifikasi, Wafi menilai kontribusi ekspansi di luar bisnis inti dalam jangka pendek masih relatif kecil dan bahkan dapat memberikan tekanan akibat biaya integrasi. Ia mencontohkan laba Cycle & Carriage yang turun 27,6% pada semester I-2026.

Namun, dalam jangka menengah, diversifikasi tersebut berpotensi membuat laba grup lebih stabil karena tidak hanya bergantung pada siklus petrokimia. Meski demikian, belum terdapat angka target sinergi resmi yang dapat dijadikan acuan.

Elandry menilai kontribusi diversifikasi sudah mulai terlihat, terutama melalui Aster. Akuisisi tersebut meningkatkan eksposur TPIA terhadap bisnis pengolahan minyak sehingga sumber pendapatan perseroan tidak hanya bergantung pada bisnis petrokimia.

Dalam jangka menengah, kontribusi tersebut berpotensi meningkat melalui CA-EDC, bisnis energi, infrastruktur, dan bisnis hilir lainnya. Kondisi ini secara bertahap mengubah profil TPIA dari perusahaan yang berfokus pada petrokimia menjadi kelompok usaha yang lebih terintegrasi antara energi dan kimia.

Untuk rekomendasi saham, Wafi memberikan target harga TPIA sebesar Rp3.200 per saham. Sementara itu, Elandry melihat saham TPIA masih berada dalam fase menunggu dan mencermati dengan kecenderungan beli spekulatif. Ia menyarankan investor mencermati kemampuan harga bertahan di atas area batas atas Rp1.980 hingga Rp2.040 per saham.

Jika mampu menembus level tersebut dengan volume yang kuat, Elandry melihat target terdekat berada di sekitar Rp2.100, kemudian Rp2.270 hingga Rp2.370 per saham.

Menurut dia, valuasi TPIA telah terkoreksi cukup dalam dibandingkan historisnya, tetapi volatilitas harga komoditas dan proses transformasi bisnis membuat risiko tetap perlu diperhatikan.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham ERAA, TOWR, dan SILO untuk Perdagangan Selasa (22/9/2026)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: