Harga Minyak dan Yield Global Naik Tekan SUN, Ini Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak mentah dunia dan naiknya imbal hasil (yield) obligasi global kembali memberikan tekanan pada pergerakan harga Surat Utang Negara (SUN) di pasar domestik.

Meski demikian, sentimen dari membaiknya likuiditas dalam negeri memberikan bantalan positif, sehingga investor dapat melirik sejumlah seri SUN yang dinilai tetap menarik untuk diperdagangkan hari ini.

Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan menjelaskan, mayoritas harga SUN ditutup melemah pada akhir pekan lalu akibat tingginya harga minyak dan naiknya yield global yang kembali membebani pasar obligasi dalam negeri.


Baca Juga: Kurangi Suspensi, BEI Pilih Bekukan Rekening Efek

Pelemahan ini tercermin secara spesifik pada segmen obligasi bertenor 8-12 tahun yang berkinerja kurang memuaskan dengan mencatatkan kenaikan yield sebesar 2-7 basis poin (bps).

Secara rinci, yield SUN tenor 5 tahun meningkat 1,7 bps menjadi 7,23%, sementara tenor 10 tahun naik 1,3 bps menjadi 7,41%, yang sekaligus memperpanjang kenaikan yield mingguannya menjadi sekitar 5 bps.

Tekanan pada pasar domestik ini sejalan dengan memburuknya sentimen risiko di pasar global. Lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 3,1% telah memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap inflasi, yang pada akhirnya turut menekan laju bursa saham Wall Street.

Tekanan jual tersebut juga mendorong naiknya yield US Treasury (UST) sebesar 3-5 bps di seluruh kurva, dengan patokan tenor 2 tahun dan 10 tahun yang masing-masing naik 4,0 bps menjadi 4,69% dan 5,00%.

Di tengah tekanan eksternal, indikator ekonomi dari dalam negeri menunjukkan sinyal campuran. Jumlah uang beredar (M2) tumbuh sedikit lebih tinggi menjadi 8,3% secara tahunan (YoY) pada bulan September 2026, mencapai Rp 10.587,9 triliun.

Baca Juga: IHSG Melemah di Awal Sesi (26/10), Cermati Sentimen Global dan Reformasi Pasar Modal

Peningkatan likuiditas ini mencerminkan adanya pemulihan pada tagihan bersih kepada pemerintah serta aset luar negeri bersih, meskipun di sisi lain pertumbuhan kredit justru melambat menjadi 12,7% dari bulan sebelumnya yang mencapai 13,3%.

"Data tersebut menunjukkan perbaikan likuiditas agregat, tetapi tren pinjaman yang lebih lunak mengindikasikan transmisi yang kurang kuat ke dalam kredit sektor swasta," ungkap Ridwan dalam risetnya, (26/10/2026).

Ridwan memproyeksikan yield SUN (Indo-GB) bertenor 10 tahun akan diperdagangkan dalam rentang 7,30% hingga 7,40% pada hari ini.

Ia juga merekomendasikan beberapa seri obligasi negara yang atraktif dan dinilai menguntungkan untuk tujuan trading, yaitu seri FR0059, FR0095, PBS030, FR0096, dan FR0083.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News