Harga Minyak Diproyeksi Tembus US$100, Harga Solar AS Cetak Rekor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia kembali terkoreksi pada Jumat (11/9/2026), tetapi masih berada di jalur untuk mencatatkan penutupan mingguan di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei.

Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi di Timur Tengah menjadi perhatian utama pasar setelah meningkatnya serangan di jalur pelayaran strategis.

Harga minyak mentah Brent turun US$1,65 atau 1,53% menjadi US$105,98 per barel pada pukul 07.58 GMT (14:58 WIB). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) melemah US$1,36 atau 1,33% menjadi US$101,12 per barel.


Kedua harga acuan tersebut sebelumnya sempat menguat pada awal perdagangan, tetapi kemudian berbalik turun setelah Financial Times melaporkan bahwa para menteri luar negeri di kawasan Timur Tengah tengah berupaya menyusun kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengatur lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz.

Meski terkoreksi pada perdagangan Jumat, harga Brent dan WTI masih mencatat kenaikan lebih dari 10% secara mingguan. Pada perdagangan Kamis (10/9), kedua kontrak minyak tersebut bahkan melonjak lebih dari 6%.

Baca Juga: Kebangkrutan Perusahaan di Jerman Capai Level Tertinggi dalam 13 Tahun

"Beberapa berita mengenai kemungkinan pembicaraan baru di Timur Tengah memberikan tekanan moderat terhadap harga minyak hari ini," ujar analis energi UBS Giovanni Staunovo.

Ia menambahkan, "Saya tetap melihat adanya risiko kenaikan harga minyak dalam jangka pendek, tetapi kita juga harus memperkirakan volatilitas harga yang tetap tinggi."

Aktivitas Kapal di Selat Hormuz Menurun

Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak global. Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz pada Rabu, setelah Amerika Serikat menyerang lima kapal tanker minyak Iran.

Korps Garda Revolusi Islam Iran juga menyatakan akan meningkatkan respons apabila terjadi serangan lanjutan.

Data awal pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi tujuh kapal pada Kamis, dari 11 kapal sehari sebelumnya. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai 15 kapal.

Sebelum perang Iran dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari.

Gangguan juga meluas ke jalur pelayaran Laut Merah. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengambil alih Pelabuhan Mocha di Yaman pada Kamis, sehingga menambah ancaman terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut.

Sementara itu, aktivitas pelayaran di kawasan Teluk masih terbatas akibat meningkatnya serangan terhadap kapal tanker dalam beberapa hari terakhir.

Serangan dari Yaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi juga menandai eskalasi konflik yang semakin luas, tidak hanya berpusat pada Iran dan Selat Hormuz. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi dapat berlangsung lebih lama di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Ekonomi Inggris Tumbuh 0,4% pada Juli, Poundsterling Menguat

IEA Pangkas Proyeksi Pasokan dan Permintaan Minyak

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperkirakan pasokan dan permintaan minyak global akan turun lebih besar dari perkiraan sebelumnya pada tahun ini.

IEA menilai minimnya kemajuan dalam mengakhiri perang Iran membuat normalisasi arus energi dari Timur Tengah tertunda hingga 2027.

Situasi tersebut menjadi faktor penting yang menjaga harga minyak tetap berada di level tinggi, meskipun pasar sempat mendapat sentimen positif dari potensi pembicaraan baru terkait pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Harga Solar AS Cetak Rekor

Gangguan pasokan minyak akibat perang Iran, ditambah serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia, turut mendorong kenaikan harga produk olahan minyak di AS.

Harga rata-rata nasional solar atau diesel di AS menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya pada Kamis, berdasarkan data pelacak harga GasBuddy.

Analis pasar utama KCM Trade Tim Waterer mengatakan produk olahan minyak, terutama diesel, saat ini menghadapi tekanan dari dua arah.

"Produk olahan minyak, terutama diesel, saat ini merasakan pukulan ganda," kata Waterer.

"Selama pembatasan pelayaran di kawasan Teluk dan gangguan kilang Rusia masih berlangsung, diesel dan produk olahan lainnya kemungkinan akan menunjukkan kecenderungan kenaikan yang lebih kuat dibandingkan pasar minyak mentah secara keseluruhan," lanjutnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gangguan pada jalur pelayaran dan kapasitas pengolahan minyak tidak hanya berdampak terhadap harga minyak mentah, tetapi juga langsung meningkatkan biaya produk bahan bakar yang digunakan konsumen dan sektor industri.

Baca Juga: Portugal Mendukung Penggunaan Aset Rusia yang Dibekukan untuk Ukraina

Trump Belum Tunjukkan Tanda Redakan Serangan

Presiden AS Donald Trump belum menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi serangan terhadap Iran. Trump bahkan memperingatkan bahwa AS dapat menyerang Pickaxe Mountain, lokasi yang berada di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang telah mengalami kerusakan berat.

Namun, Trump mengatakan dirinya memperkirakan perang tersebut akan segera berakhir setelah pemilihan paruh waktu AS pada November.

Ketidakpastian mengenai durasi konflik menjadi salah satu faktor yang membuat pasar minyak tetap volatil. Pelaku pasar harus mempertimbangkan risiko gangguan pasokan yang lebih panjang apabila ketegangan di Timur Tengah terus meningkat.

China Naikkan Harga Eceran BBM

Di sisi lain, China juga mengambil langkah menaikkan batas harga eceran bahan bakar minyak (BBM).

Perencana ekonomi negara tersebut pada Jumat menyatakan akan menaikkan batas harga eceran bensin dan diesel mulai 12 September.

Batas harga bensin dinaikkan sebesar 260 yuan atau sekitar US$38,76 per ton, sedangkan diesel naik 250 yuan per ton.

Kenaikan tersebut menunjukkan bagaimana gejolak harga minyak global mulai berdampak terhadap pasar energi domestik negara-negara konsumen utama.